Thursday, September 27, 2018

A & E (88)

"Jodoh itu rumit, Mar,"
"Rumitnya di mana?" tanya Maria sambil menyalakan blender berisi potongan nanas dan jahe.
"Ya rumit lho. Coba kau pikirkan. Berapa jumlah orang yang kita kenal, anggap saja 1000 orang. Lalu, dari yang kita kenal itu, ada yang suka kita, ada yang kita suka. Ada yang bertepuk sebelah tangan, ada yang saling suka. Dari situ, berapa jumlah kemungkinan akan tahan lama dan akhirnya menikah? Kemungkinan kecil sekali," Ola duduk di kursi coklat favoritnya.
"Haha, Ola Ola. Tidak semuanya itu perlu kau pikirkan secara logika,"
"Lho, ya kan? Memang ini logika. Makanya ada frase tresno jalaran soko kulino. Cinta hadir karena kebiasaan,"
"Lalu kenapa kau mesti membahas ini, sekarang?"
"Ya, karena aku mesti menemukan pengganti Elang. Ya kan? Apa kau tega melihat aku terus menangisi dia yang sudah dimiliki orang? Apa kau tega?" Ola berkata sambil mengunyah potongan mangga arumanis yang matang pohon.
"OK. La, coba kau ingat-ingat. Bagaimana dulu pertemuanmu dengan Elang?"
"Hmm, apa hubungannya?"
"Ya, agar kau ingat,"
"OK. Hm.. dulu.. tak sengaja aku kenal dengannya. Ya kan? Lalu kami dekat, dan kami saling suka."
"Saat kau bertemu dia, apa kau tahu bahwa kau akan jatuh cinta padanya?"
"Jelas tidak, Mar. Siapa yang bisa tahu kepada siapa hatinya akan tersandera?"
"La, janganlah kau mengejar pengganti Elang. Untuk apa? Hanya supaya kau tak sendiri?"
"Ya, supaya aku tak bersedih lagi. Ada seseorang yang menyayangi dan menerimaku apa adanya?"
"Aku ini kau anggap apa? Tidak menyayangi dan menerimamu apa adanya, hah, hah?" Maria bercanda dengan sedikit menaikkan intonasi suaranya.

Suara blender sudah berhenti. Potongan nanas tadi sudah cantik dan siap disajikan. Kata orang, ramuan ini cocok untuk pereda batuk. Ibu Nanik perlu mencoba ini, batuk beliau yang tak kunjung sembuh membuat Maria cemas. Malam hari seakan jadi momok bagi Ibu Nanik. Tidur beliau terganggu, dan paginya beliau akan bangun dengan lemas dan kurang bersemangat.

"Ya bukan begitu, Mar,"
"Kau ini. Kehilangan satu Elang saja sudah seperti kehilangan duniamu. Aku seringkali khawatir denganmu. Kau terlalu melankolis saat bersamanya. Melebih-lebihkan perasaan terluka, dan akhirnya, lebay!"
"Ya ampun, Maria!" Ola serasa tertampar.

Betulkah aku begitu? Maria tidak punya intensi apapun untuk membohongiku. Dia adalah sahabatku paling jujur, paling memahami, paling bisa menerimaku apa adanya. 

"Jadi, apa yang mesti aku lakukan?"
"Berhenti berharap," jawab Maria.
"Haiyaah. Duta lagi disebut-sebut,"
"Aku serius La. Berhenti mengharapkannya. Berhenti. Dan mulai belajar bersyukur."
"Kau ini, betul-betul bijak bestari,"
"Hey, hidup hanya mengajarkan, kau yang mesti mencari hikmahnya,"
"Jadi?"
"Sudahlah. Cintai saja dulu dirimu. Perbaiki hubunganmu dengan Mama Papa. Dengan orang-orang di sekelilingmu. Kau akan sadari, kehilangan seorang Elang itu tidak mengubah apapun. Ya, mungkin hanya 1% dari semuanya,"
"Kau memang tidak menyukainya, Mar?'
"Aku tidak menyukai keadaanmu yang seperti ini. Lebay melambai, sedih, mengharu biru. Tak menyadari karunia-karunia Allah yang diberikan jauh lebih banyak daripada yang kau tangisi itu."
"OK, kau memang tidak menyukainya. Haha,"
"Haha, terserah kau sajalah,"

Maria membawa jus nanas ke ruang tengah untuk menghidangkannya ke Ibu Nanik. Ibu Nanik menatap lurus ke tanaman-tanamannya di luar. Dia meminum seteguk jus nanasnya, dan memegang gelasnya sebentar, lalu tiba-tiba, gelas itu jatuh dan pecah!

"Prang!"
"Tidak apa-apa, Bu. Sudah takdir," Maria tersenyum teduh menatap ibunya yang terkejut dengan pecahnya gelas jus nanas yang baru seteguk diminumnya. Ia bergegas mengambil tissue dapur dan membersihkan jus dan pecahan gelasnya. Ia tampak sabar dalam mengerjakannya.

"Kau sabar sekali, Mar,"
"Karena surga itu harganya mahal, La,"
"Maksudnya?"
"Tiket ke surga itu hanya kesabaran. Dan itu satu-satunya modal yang bisa kutanamkan. Investasi kesabaran."
"Maksudnya?"
"Nanti kau juga paham," jawab Maria sambil membawa pecahan gelas ke dapur. Ola membantu mengeringkan lantai. Ibu Nanik masih diam menatap dedaunan di luar.

Tiket ke surga itu hanya kesabaran, apa maksudnya? pikir Ola ...

Artikel Terkait

A & E (88)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email