Wednesday, September 26, 2018

A & E (87)

Waktu itu relatif. Jika kau menyenangi suatu kegiatan, maka waktu serasa terbang cepat meninggalkanmu. Dan jika sebaliknya, kau akan merasa waktu berjalan sangat lambat dan perlahan.

Sudah lebih dari dua ratus sembilan puluh lima pagi tanpa ucapan selamat pagi darimu. Aku mencoret kalender seolah aku menanti datangnya sesuatu. Ya, kesempatan berbincang lagi denganmu.

Selama kita tak bertemu, aku menuliskan segala rasaku di buku. Ya, kau tak kan mengira bahwa laki-laki sepertiku akan tekun menuliskan perasaannya, bukan? Walau kau tahu betul aku dan kau bisa menghabiskan waktu dengan berbincang.

Menulis, membuatku merasa lega. Seolah kita sedang terhubung dan berkomunikasi. Walaupun aku paham betul itu sebatas ilusi.

Menulis, membuatku mampu menyelam ke dasar hati dan kuangkat mutiara hikmah yang mengendap dari butiran pasir luka menganga.

Menulis, membuatku melewatkan waktu dengan lebih cepat.

Ya, aku lebih sibuk kini. Karena seperti yang kau pahami, aku tak mau terbunuh sepi. Kali ini, ku akan hadapi luka hati dengan gagah berani.

Ada perempuan yang menawarkan hatinya untukku. Aku tak tahu. Aku masih belum bisa melupakanmu. Dia begitu baik dan memahamiku. Seolah ia ingin menggantikan posisimu. Aku tak tahu ketulusannya. Tapi aku tak hendak terluka. Aku masih merinduimu, kuakui dengan jujur kelemahan hatiku.

Aku yakin, jika perempuan ini memang untukku. Dia akan bertahan melihatku berjuang melupakanmu.

Aku masih tak tahu kenapa kau menolakku. Aku masih di sini, untukmu.




Elang.

Artikel Terkait

A & E (87)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email