Wednesday, September 26, 2018

A & E (86)

Suatu hari nanti, aku akan bertemu denganmu. Dan saat itu akan kupergunakan sebaik-baiknya untuk menghabiskan waktu denganmu, berbincang tentang apa saja yang telah kau lalui selama ini, selama kau tanpaku. 

Elang, 

Dokter bilang aku tidak sakit. Walau aku demam dan menggigil, dokter bilang aku tidak sakit. Dia bilang aku hanya butuh relaksasi. Dia tak memberiku obat. Dia hanya memberiku multivitamin, memberikan totok pada titik-titik tertentu, lalu menyuruhku istirahat. Beliau memang bukan dokter biasa. Beliau dokter umum, yang lalu mempelajari lebih lanjut ilmu pengobatan avasin. Bukan akupuntur, walaupun sama-sama menggunakan jarum; jarum avasin tidak tajam. Teknik ini dipelajari dari timur tengah. Tidak semua dokter akrab dengan ilmu pengobatan timur ini. Bagaimana mungkin ia tahu bahwa aku tengah banyak pikiran yang berkecamuk? 

Aku lelah, Lang. 

Lelah dengan menumbuhkan pengharapan, lalu kau bunuh perlahan. Lelah dengan kesabaran, lalu kau matikan secepat kau meniup lilin yang tak lagi kau perlukan. Lelah dengan kelembutan yang kau tawarkan, namun sekelebat rasa bersalah muncul perlahan. Ku tak inginkan kepalsuan. Walau kau katakan itu bukan kepalsuan. Itu yang sungguh-sungguh kau rasakan, namun yang tak mampu kau sampaikan. 

Lang, mungkin kau tak lagi peduli padaku, aku pun tak peduli. Ya sudahlah jika kau tak lagi memperhatikanku. Toh, ada dia yang memang berhak dan memilikimu. Aku ingin membiasakan lagi hidup tanpamu. Mencoba bangun pagi dan tak perlu menyapamu. Mencoba bangun pagi dan tak perlu menunggu balasan pesanmu. Mencoba bangun pagi dan bersyukur atas hidupku, bukan bersyukur atas kehadiranmu. Mencoba bangun pagi dan menyiapkan kopi untukku, bukan untukmu. Mencoba tidur di malam hari ini,  dan tidak berharap esok tak perlu menanti pertemuan denganmu. 

Lang, kurasa sakit ini menjadi suatu peringatan, bahwa sebaiknya aku segera pergi dari hidupmu. Melanjutkan hidupku. Dan kita melanjutkan hidup masing-masing. Sendiri-sendiri lagi. 

Kutak berharap dirimu akan membalas ini. Anggap saja ini e-mail perpisahan. Tapi biarkan aku menulis tentangmu, agar tak mengendap semuanya di benakku. Biarkan aku menulis tentang kita, untuk menghargai yang pernah ada. Biarkan aku menulis tentang kalian, agar menjadi pelajaran bagi banyak orang.

Mungkin suatu hari, akan kutulis novel tentang kita. Untuk merayakan bahagia, walau tak bersama. 





Ola. 











Artikel Terkait

A & E (86)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email