Monday, September 24, 2018

A & E (85)

"Kita hidup di dunia yang selalu berputar, berotasi, berevolusi. Karena ketidakmampuan kita menangkap gerakannya, kita terus menganggap dunia ini diam tak bergerak. Padahal sebenarnya ia terus berputar. 

Akan banyak hal yang tak kau pahami. Karena yang kau tahu hanyalah sebatas yang tertangkap panca indera dan akalmu. Sedangkan akalmu pun terbatas. Kapasitas otak yang berkembang perlahan, pikiran yang mendalam dan kebijaksanaan yang terasah, bukanlah hal-hal yang kau dapat dari lahir. Tiap kita memang punya bakat untuk itu, tapi kehidupanlah yang banyak mengajari kita, dan ketidakegoisan dan pengakuan atas kelemahan kitalah yang membuat kita mampu mengambil hikmah. 

Berapa kali kau temukan orang yang mengeluh atas suatu musibah, lalu beberapa waktu kemudian, justru mensyukurinya? Ada sebuah cerita tentang seorang raja dan penasihatnya. Ini kisah yang kudengar dari cerita seorang ustadz. Mungkin kita bisa mengambil pelajarannya. 

Kisah ini dimulai dengan sang raja yang mempunyai seorang penasihat yang sering kali berkata "ini yang terbaik, Yang Mulia" sambil tersenyum. Apapun yang dilakukan sang raja, selalu ia tanggapi "ini yang terbaik, Yang Mulia". Suatu hari, raja dan penasihat ini pergi berburu. Tak sengaja, pisau yang dipegang penasihat ketika hendak diayunkan mengenai ibu jari sang raja dan terputus oleh pisaunya.

Sang raja murka! Penasihatpun langsung disuruh untuk ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Penasihat itu tersenyum dan berkata "ini yang terbaik, Yang Mulia". Setelah beberapa lama berlalu, sang raja punya penasihat baru. Merekapun pergi berburu. Karena keasyikan berburu, ternyata sang raja masuk ke daerah terlarang yang dimiliki suku kanibal, ya pemakan manusia. 

Penduduk suku yang kanibal ini menangkap raja, penasihat, dan prajurit-prajuritnya. Satu per satu mereka disembelih dan dimakan. Termasuk penasihat baru sang raja. Kemudian tiba giliran sang raja untuk disembelih.

Uniknya, suku ini mempunyai kepercayaan untuk tidak makan manusia yang bertubuh cacat. Betapa kagetnya ketika mereka melihat ibu jari sang raja yang sudah tidak ada satu. Segera mereka lepaskan sang raja dan membiarkan dia melewati perbatasan dan selamat masuk ke negerinya. 

Sang raja amat bersyukur dan diapun menuju ke penjara, untuk berterima kasih kepada penasihatnya. "Terima kasih telah memutuskan ibu jariku. Jika tidak, mungkin aku sudah mati dimakan ramai-ramai suku tersebut." Sang penasihat tersenyum dan berkata "ini yang terbaik, Yang Mulia. Apa jadinya kalau saya tidak dipenjara? Mungkin saya sudah ikut Yang Mulia dan mati dimakan ramai-ramai oleh suku kanibal itu, sama seperti penasihat Yang Mulia."

Merekapun tertawa dan mensyukuri musibah yang menimpanya. 

Moral dari cerita ini adalah.. Lang, apapun yang terjadi denganmu dan dengan Ola, apapun keputusannya, inilah yang terbaik. Kau mungkin takkan tahu apa hikmah dari putusnya hubungan kalian. Tapi jangan pernah berprasangka buruk atas musibah yang terjadi. Boleh jadi putusnya kalian telah menyelamatkan kalian masing-masing dari bencana yang lebih besar. Teruslah berbaik sangka pada Sang Pencipta Skenario," Wisnu melanjutkan. 

Elang hanya bisa menatap nanar sahabatnya ini. Ia ingin mengunyah pizza yang dibawa Wisnu, tapi rasanya lidahnya hambar tak berasa. MSG sekuat apapun tampaknya tak bisa menghilangkan rasa pahit di hatinya, di lidahnya.

Wisnu tersenyum, dan berkata "
take your time. You have all the time in the world,"


Artikel Terkait

A & E (85)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email