Sunday, September 23, 2018

A & E (84)

Tangisnya pecah. Ia tak pernah berharap mendapat jawaban seperti ini dari Ola. Ia memang laki-laki, tapi laki-laki juga punya hati. Inilah hal terakhir yang terlintas di benaknya. Tidak akan mungkin Ola menolaknya. Setelah apa yang mereka jalani. Setelah apa yang mereka hadapi. Tak mungkin Ola mengambil keputusan ini. Ini pasti bukan Ola. Ini bukan Ola yang kukenal, pikirnya.

Laki-laki juga punya perasaan. Dan saat ini, apa yang dipikirkan Ola? Gila! Indonesia telah menghancurkan Olaku. Dengan siapa dia berteman di sana? Siapa yang telah mempengaruhinya seperti ini? Ini adalah rencana kami, dan tidak akan ada yang mengubahnya.

Memintanya untuk menikahiku bukanlah hal yang mudah untuk kukatakan. Susah karena aku belum punya cukup kekuatan finansial untuk menikahinya. Susah karena aku tak bisa menahannya untuk tidak pulang ke Indonesia. Susah karena aku sudah pernah mengatakan tidak untuk permintaannya. Apakah dia dendam padaku? Apa yang ia pikirkan? 

Elang tak habis pikir. Apa yang telah merasuki Ola. 

"Ola, marry me,"
"No,"
"Ola, will you marry me?" Elang bertanya untuk kedua kalinya. 
"No, Elang. I will not marry you,"
Dan gagang telepon yang dipegang Elang lepas perlahan...

Berulang-ulang adegan ini terputar di pikiran Elang. Badannya demam, ia mengigau meracau, memanggil nama Ola. Wisnu melihat sahabatnya dengan sedih. Betapa cinta bisa menghancurkan laki-laki. 

Wisnu mendengar cerita dari Elang beberapa jam lalu. Ola menolak permintaan Elang untuk menikahinya. Wisnu diam tak berkutik mendengar cerita ini. 

"Gak mungkin, Nu,"
"Tapi terjadi,"
"Tapi itu bukan Ola,"
"Itu Ola,"
"Bukan, Nu!" nada suara Elang meninggi. 
"Itu bukan Ola!" Elang kembali berteriak.
"Ya, terserah kau sajalah," Wisnu menjawab seadanya. Percuma berbeda pendapat dengan sahabatnya yang keras kepala ini. 

Di mimpi Elang, Ola dan dirinya berlarian, namun kemudian Ola berlari menjauh, lebih cepat, semakin cepat, menjauh darinya. Dan ia hanya bisa memanggil, "Olaaaaaa, Olaaaaaaa,", dan suhu badannya semakin naik. 


Patah hati begitu menyakitkan....


Artikel Terkait

A & E (84)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email