Saturday, September 22, 2018

A & E (82)

"Tidak semua yang kau bisa lakukan, mesti kau lakukan.
Kau bisa saja loncat dari gedung, kau bisa saja bunuh diri, tapi kau tak lakukan.
Pun kau bisa saja berenang di kolam kedalaman 2 meter, tapi juga kau tak lakukan. Ya kan? 
Manusia punya yang namanya keinginan, kemauan, lintasan pikiran. Namun tak semua yang terlintas akan mewujud dalam kenyataan.
Di sinilah tampak betapa Maha Kasihnya Dia. Niat kebaikan saja sudah dicatat sebagai kebaikan, walau belum terwujudkan. Sedangkan lintasan niat keburukan, tak kan tercatat sebagai keburukan kecuali hingga ia terlaksana.
Lalu kau masih bertanya di mana Dia saat kau butuhkan?
Jangan-jangan, kabut telah menutupi mata, pendengaran, dan hatimu....," kata Elang di suatu sore menjelang senja. 

Halaman GroteMarkt Haarlem masih seperti biasanya. Orang-orang lalu lalang berbahagia. Ada beberapa pasangan yang tampak bahagia dan saling menyandarkan bahu dan melempar tawa. Ada juga beberapa pasangan muda yang mendorong anak balitanya di stroller. Semua ceria, merayakan datangnya sore di hari Kamis, yang artinya toko tutup lebih malam. Di Belanda, namanya Koopavond. Malam berbelanja.

Di Indonesia sudah biasa toko tutup jam sembilan malam atau bahkan lebih malam. Tapi di sini, di mana tenaga kerja dihargai lebih mahal, setiap hari, kecuali hari-hari tertentu, toko tutup jam enam sore. Kecuali supermarkt, yang menjual barang-barang keperluan rumah tangga. 

Meja kafe tempat mereka duduk berbentuk bulat dan beralaskan kaca. Pinggiran besi dan kursi yang terbuat dari bambu. Entah bambu asli atau plastik yang seolah bambu. Yang penting, bisa diduduki dengan nyaman. Santai dan menikmati atmosfer Kamis sore.

Ola memesan hot chocolate, dan Elang memesan secangkir cappucino. Bahagia.

"Ya, kau benar, Lang. Bisa jadi aku memang telah tertutup mataku, pendengaranku, dan hatiku. Bisa jadi. Tapi kenapa Dia tak memberiku kesempatan untuk bersamamu?"

"Sekarang kita bersama,"

"Ya, tapi kau menolak untuk menikahiku, kan?"
"Apakah bersama mesti menikah, La? Tak bisakah kau nikmati saat ini?"
"Aku menikmatinya. Dan aku ingin menikmatinya dengan halal, bersamamu,"
"Ah, itu lagi..."
"Let's talk about it,"
"Let's not ruin this beautiful moment,"
"Why don't you want to marry me?"
"It's not about you, La. It's me,"
Elang menarik nafas panjang dan memalingkan pandangannya jauh ke ujung toko Vodafone yang berwarna merah di seberang tempatnya duduk di Grotemarkt. 
Apakah aku akan menceritakan semua kisah sedihku, yang tak mampu untuk menikahinya sekarang?, pikir Elang. 

"La, aku tak bisa sekarang,"
"Ya, kenapa?"
"Karena aku belum punya pekerjaan tetap," jawab Elang dengan sedikit tekanan pada nada suaranya. 
Ola terkejut mendengar jawaban Elang. 
"Lang, seriously? Ini alasanmu?"
"Memangnya kau kira apa alasanku?"
"Ya kukira karena kau tak mencintaiku, atau ibumu ingin kau menikah dengan seorang anak kaya raya, atau apalah." Ola tertawa. 
"Ola, ini tidak sederhana,"
"Justru kalau alasannya ini, ini alasan yang paling sederhana. We can work it out, I am sure."
"La, kau tahu berapa penghasilanku sebagai dishwasher?"
"Tahu. Tujuh euro per jam. Ya kan?"
"Kau tahu berapa euro yang mesti kukirimkan ke Indonesia setiap bulannya?"
"Ya, sekitar lima ratus hingga enam ratus euro, kan? Lalu apa masalahnya?"
"Lalu kau tahu apa yang biasanya kumakan selama ini kan?"
"Makanan dari restoran, kadang kau masak, kadang kau beli di afhaalcentruum, kadang kau makan pizza dengan nasi," Ola tertawa bahagia di hadapan kekasihnya, walaupun yang ia ucapkan sebenarnya menyedihkan juga. 
"Lalu, di mana masalahnya?"
"Ola, aku harus berpenghasilan berapa untuk bisa hidup denganmu?"
"Hm, aku tak ingin kita samenleven,"
"And we're not,"
"Elang, penghasilanmu itu tak penting bagiku. Yang penting bagiku, kau tetap berpenghasilan. Kita bisa bekerja sama-sama. Aku bukan perempuan manja yang hanya menunggu jatah nafkah bulanan dari suami,"
"Aku tahu. Justru itu masalahnya,"
"Apalagi masalahnya?"
"I want to spoil you,"
"Gombal! Hahaha,"
"La, please. Give me some time."
"Berapa lama?"
"Enam bulan,"
"Enam bulan, max,"
"OK."
"Deal?"
"Deal"
"That's my girl,"
"I am yours,"
Dan obrolan itu ditutup dengan datangnya pesanan poffertjes mereka. Bagi poor student seperti mereka, duduk di kafe seperti ini sudah jadi hal mewah.





I want to spoil you all my life...

---
Let's Stay Together
Let's stay together
I, I'm I'm so in love with you
Whatever you want to do
Is all right with me
Cause you make me feel so brand new
And I want to spend my life with you
Let me say that since, baby, since we've been together
Loving you forever
Is what I need
Let me, be the one you come running to
I'll never be untrue
Oh baby
Let's, let's stay together (gether)
Lovin' you whether, whether
Times are good or bad, happy or sad
Oh, oh, oh, oh, yeah
Whether times are good or bad, happy or sad
Why, why some people break up
Then turn around and make up
I just can't see
You'd never do that to me (would you, baby)
Staying around you is all I see
(Here's what I want us do)
Let's, we oughta stay together (gether)
Loving you whether, whether
Times are good or bad, happy or sad
Come on
Let's stay, (let's stay together) let's stay together
Loving you whether, whether times are good or bad
Songwriters: Al Jackson Jr / Willie Mitchell / Al Green
Let's Stay Together lyrics © Warner/Chappell Music, Inc, Universal Music Publishing Group, Kobalt Music Publishing Ltd.

Artikel Terkait

A & E (82)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email