Friday, September 21, 2018

A & E (81)

Baiklah. Akan kulepaskan kau kini. Sebagaimana yang pernah kulakukan. Kulepaskan bukan karena ku tak sayang. Kulepaskan karena ada yang lebih besar dari rasa sayang. Aku ingin ketenangan. 
Kembali ke saat rindu padamu berupa bongkahan es yang membeku. 
Kembali ke saat rindu padamu adalah tak perlu menghubungimu untuk mengatakan sudah dekatku dengan tempat kita rendezvouz. 
Kembali ke saat rindu padamu tak sanggup kusampaikan karena kata-kata itu tak mampu melewati kelunya lidahku. 
Kembali ke saat ku hanya bisa mengingat namamu tanpa mampu menggambar siluet wajahmu. 
Ku ingin kembali ke saat itu. 
Elang, kau tahu, bagiku kau adalah candaan Tuhan yang tak lucu. 
DIA membuatku mengenalmu, mencintaimu, menginginkanmu. Tapi kau menghempaskanku. 
DIA membuatmu menolakku, menyesalinya, mengharapkanku, lalu ku tak indahkanmu. 
The joke was on us. The joke is on us. 

Apa yang diinginkanNya? 
Apa yang perlu kubuktikan? 
Skenario apa yang ingin DIA mainkan? 

Lelah aku berharap padamu untuk melepaskannya. Hal yang tak pernah akan bisa kau lakukan, kurasa. Kenapa? 
Karena aku tahu, aku tak bisa kau taklukkan. Dan rasa cintamu itu, mungkin hanya sebatas penasaran. Ego kelelakian. Bukan begitu? 
Kau menikahinya, atas dasar apa? Karena dia menjadikanmu tempat bersandar, atau sebaliknya? Kau begitu teduh bersemayam di bawah hangatnya pelukan. Dan kau lupa sebagian dirimu adalah petualang. 

Dan pertemuan denganku mengingatkanmu, where have I been doing all this time? 

Menjadi settle. Berdiam. Lalu apa? Kau termakan kerja 9-5 seperti orang-orang. Kau bosan. Dan aku membawamu ke dunia di mana kita bisa bebas bertanya dan berpikir dan menanyakan eksistensi. Hal bodoh yang kata orang hanya wasting time. 

Kau ingin berlepas dari kebosanan. Dan kau berkata, kau siap mengarungi ini semua lagi bersamaku. Tapi aku tanya, apa kau pernah benar-benar siap dengan segala konsekuensinya? 

Ingat, kita tidak hidup di negara di mana orang akan masa bodoh dengan urusan orang lain. Mereka akan berkasak-kusuk di belakang kita, mencari tahu apa penyebabnya. Lalu membuat ribuan teori versi apapun yang mereka inginkan. Lalu kita akan berlari, katamu. Ke mana? Ke ujung dunia, jawabmu. Aku tertawa, berlari darinya saja kau tak bisa, mana mungkin kau membawaku ke ujung dunia. Dan sekali lagi, ego kelelakianmu terluka. Dan kau kembali di pelukannya. Mencari kehangatan yang sempurna. 

Aku tak menagih janji. Aku bukan debt collector. 
Janjimu adalah urusanmu dengan hatimu, dengan Tuhanmu. Bukan denganku. Obyek janji yang juga bisa menghianati. 

Lang, aku tahu suatu saat kita akan berpisah dan tak ingin melihat ke belakang lagi. Tapi jujurlah pada dirimu sendiri, jika kau masih mencintaiku, maka kau akan membiarkan dirimu terbang berpetualang lagi. Kali ini, dengannya. 

Kau takkan pernah bisa memilikiku. Bukan takdirmu, katamu. 
Maka biarkan apa yang pernah kita miliki menjadi milik kita masing-masing. Untuk berjalan dan menguatkan. Untuk menjadi kenangan yang tak perlu kita ingat-ingat kapan datang menjadi kenyataan. 

Lang, aku mencintaimu. Sesungguhnya. 
Dan dengan rasa cintaku padamu, aku melepasmu, untuk bersamanya. 
Dan dengan rasa cintaku padamu, aku melepasku, darimu. 
Karena cintaku bukan belenggu. 
Dan cintamu bukanlah jawaban bagiku. Bukan takdirmu, katamu. 

Aku muak berada di pusaran antara kalian. Aku disalahkan. Aku dikucilkan. Seolah-olah akulah yang paling bersalah dalam skenario ini. Tak pernahkah ia berpikir bahwa iapun bersalah hingga membuat sayapmu patah? Kehangatan yang justru menghancurkan pada akhirnya? Dia perlu menakar. Kaupun juga. Akupun sama. 

Kita perlu menakar rasa cinta.
Sampai dimana ia mestinya dirasa.
Sampai dimana ia mestinya dibela.
Karena seperti katamu, ada hal-hal yang tak lagi bisa kita ubah.
Aku dan kau salah satunya. 




Ola

Artikel Terkait

A & E (81)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email