Friday, September 21, 2018

A & E (80)

Saat kau lepaskan sesuatu, kau relakan, kau ikhlaskan; meski pening kepalamu saat mengingatnya, meski rungsing diri jadinya saat membicarakannya; yakinlah... Allah SWT sedang mempersiapkan hal baru yang lebih menantang, lebih menyenangkan.
Syaratnya, lepaskan dulu yang kau genggam. Biarkan skenarionya yang indah dan tak pernah salah alamat, tak pernah salah timing, hadir dan menghiasi hidupmu dengan lebih berwarna.
Tak ada yang kebetulan.
Semua terjadi atas perhitungan cermat Sang Maha Teliti.
Tak ada yang kebetulan.
Semua terjadi atas izinNya Sang Maha Pencipta dunia, langit dan seisinya...
Kau tahu bahwa dunia tak berputar dengan sendirinya
Kau juga pasti tahu bahwa mana mungkin tanaman berevolusi tapi kawan-kawan sejenisnya masih ada.
Kecerdasan alam.
Kecerdasan itu, siapa yang membuatnya? 
Pasti ada. 
Kau percaya juga kan? 
Maka biarkan kepercayaanmu akan pencipta kecerdasan alam itu menuntunmu untuk mempercayai jalan yang bernama takdir. 
Berat? 
Tidak. 
Takdir adalah segala sesuatu yang telah terjadi yang tak mampu kita ubah permanen. Ya kau bisa mengubah warna rambutmu, tapi akan kembali lagi ke aslinya. Kau bisa mengubah warna lensa matamu, tapi kau tetap tahu apa warna aslinya saat kau terlahir. Kau tak bisa mengubah dari rahim siapa kau akan terlahir, di mana, dan kapan kau terlahir. Itulah takdir. 

Seperti aku yang tak tahu bahwa aku tertakdir untuk tak memilikimu. 

Ku tak pernah mengira suatu hari aku ada di persimpangan hati seperti ini. Bukan, ini bukan gombal. Aku berkata sejujurnya. Sepahitnya. Seadanya saja. 

Seperti takdir yang telah membuatku mencintaimu dulu. Mencintaimu kini. Nanti? Aku tak tahu.

Kau bilang aku begitu pintar menerjemahkan segala gerak gerikmu, setiap helaan nafasmu ku perhatikan, kutanyakan, hingga terkalibrasi rasaku dan rasamu. 

Kau bilang aku begitu lihai mengamati perubahan emosimu, mudah mengalah untukmu, tak pernah marah padamu, hingga kau begitu tergantung pada kehadiranku untuk menenangkanmu. 

Kau bilang aku terampil membuatmu tertawa, tersenyum, lalu bertanya-tanya, apakah suatu saat ini akan selamanya? 

Itu takdirku untukmu.

Takdir yang tak pernah kuminta. Tak pernah kau doa. Takdir yang menjadi jalan bagi kita. Cukup itu saja. 

Memilikimu, adalah hal lain. 

Bukan inginku saat kau menolak untuk menikahiku.

Bukan harapku saat kau pergi dan ada yang mengganti. 

Semua terjadi begitu saja. Tanpa ada rencana. Seperti menemukan kembali rasa ini yang masih ada. Kusimpan rapat di dalam dada, dan tak pernah kuungkap walau dalam canda. Tapi saat bertemu mata, robohlah seluruh benteng pertahanan itu semua. Kau menjelma nyata! 

Kau tak lagi impian di hampanya mimpi. 
Kau tak lagi dambaan di pelukan hati sepi. 
Kau tak lagi sekedar nama yang kuanggap mati. 

Kau ada. 
Aku ada. 
Dia ada. 

Dan bukan takdirku untuk membersamaimu kini. 
Walau untuk mengharapkannya tak pernah terhenti terucap dari bibirku ini. 
Kubiarkan, kurelakan. Sekali lagi. 
Kulepas genggamku. Kulepas inginku. Dan kuberharap, kaupun begitu. Jangan pernah berhenti mempercayai pencipta kecerdasan alam. Ingatlah, DIA jugalah yang menginginkan kita melewati ini semua. Sekali lagi. 

Biarkan aku mencintaimu, sekali lagi. 
Lalu melepasmu, sekali lagi.
Dan saat kita bertemu nanti, semoga tak ada rasa ini lagi dalam hati. 





Elang. 





Artikel Terkait

A & E (80)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email