Wednesday, September 05, 2018

A & E (79)

"Jika nanti aku mati, apa kau akan bersedih?"

"Ya, aku akan bersedih."

"Kau akan menangisi kepergianku?"

"Aku akan menangisi betapa waktuku sedikit untukmu,"

"Itu saja?"

"Aku akan menangisi betapa banyaknya khilaf yang kulakukan padamu,"

"Itu saja?"

"Aku akan menangisi hal-hal bodoh yang kita lakukan bersama,"

"Itu saja?"

"Dan aku akan menangisi bahwa aku tak cukup pernah membuatmu mengerti betapa besar sayangku padamu,"

"Lalu, apa yang akan kau lakukan? Kau akan menangisiku di pusaraku?"

"Mungkin tidak. Mungkin aku hanya akan melihat pemakamanmu dari kejauhan. Lalu pergi."

"Kenapa tak kau dekati makamku?"

"Mana sanggup ku tahan badai air mata jika itu kulakukan,"

"Jika ku mati lebih dulu dari dirimu?"

"Ya, itu takdir,"

"Betul. Jika kau mati lebih dulu daripadaku, biarkan aku beramal atas namamu,"

"Untuk apa?"

"Agar aku bisa terus membuktikan rasa sayangku padamu, membuktikan rasa cintaku padamu. Yang tak kan pernah lekang walau kita terpisah maut. Ku ingin bisa menerangi kuburmu, ku ingin membahagiakanmu. Kini, dan nanti,"

"Terima kasih. Ini hal paling membahagiakan dan menenangkan yang pernah aku terima,"

"Sama-sama. Kau layak mendapatkannya,"

"Terima kasih, suamiku," kata Ola sambil menitik air matanya. Dia berpikir tentang kebaikan apa yang telah ia lakukan sehingga ia mendapat suami sesabar, sebaik, sesholeh ini.

-----

Kematian adalah nasihat. Nasihat bahwa semua mempunyai waktu, umur, dan masa guna. Berita kematian yang mengejutkan kuterima minggu ini lebih dari sekali. Suami kawanku, yang hanya sakit beberapa hari, lalu pergi. Kawanku, sakit beberapa minggu, lalu pergi. Kabar dari kawanku satunya, yang ayah mertuanya meninggal. Semua mengingatkanku akan kepergian sahabatku, bertahun-tahun lalu, setelah ia melahirkan anak laki-lakinya. Mengingatkanku akan kepergian ayahku, bertahun-tahun lalu, berita yang tak pernah kuduga datangnya begitu cepat. Mengingatkanku akan kepergian eyangku, yang padanya aku berhutang dunia dan akhirat. Kematian-kematian yang meninggalkan nasihat begitu dalam dan terpatri. Bahwa semua ada masanya. Nanti, dunia ini hanya menjadi cerita. Sebagaimana sekarang, akhirat hanya menjadi cerita. Semuanya akan terbalik. Siklus terus berputar. Ada kematian ada kelahiran. Dan nanti saatnya, kita akan dipanggil satu per satu. Mempertanggung jawabkan semuanya sendiri-sendiri. Betapa menakutkannya. Betapa mengerikannya. Betapa tak sanggup ku membayangkannya. Ketakutan mencekam yang membuat orang berkata, ya Allah, seandainya aku dulu Kau ciptakan sebagai tanah.

Semoga kematian yang mendatangi adalah akhir yang baik, khusnul khatimah, yang menyebut asmaNya di lidah kelu yang segera dingin. Semoga kematian yang mendatangi adalah akhir yang baik, yang memikirkan kebahagiaan atas ditinggalkannya dunia fana yang memberikan kekecewaan. Semoga kematian yang mendatangi adalah akhir yang baik, yang tersenyum bahagia saat malaikat pencabut nyawa datang, bukan ketakutan dan kengerian yang tak tertahan.

Ya Allah, jadikan kematian kami, saudara-saudara kami, keluarga kami, kawan-kawan kami adalah akhir yang membahagiakan...Aamiin...

Artikel Terkait

A & E (79)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email