Friday, August 24, 2018

A & E (77)

"Maafkan aku, La. Aku tak pernah menginginkan hal ini terjadi pada hubungan kita. Aku tak ingin melukai perasaanmu. Aku hanya ingin kita kembali berkawan. Bukan seperti ini yang kubayangkan. Aku benar-benar tak ada maksud untuk membuatmu menjadi orang ketiga," Elang berkata lirih seraya menatap lekat bola mata Ola yang tampak berkaca-kaca.

"Akupun tak pernah ingin jadi orang ketiga. Di antara kalian. Atau di antara siapapun. Menjadi orang ketiga itu menyedihkan,"

"Aku tak ingin kau sedih,"

"Kau sudah membuatku bersedih. Kau jahat, Lang,"

"Tak pernah ada maksud menjahatimu, La. Kau tahu aku benar-benar sa,"

"Cukup, Lang." ucap Ola lirih. Ia menutup kedua telinganya. Mukanya tertunduk lesu. Air matanya jatuh menetes satu per satu. Elang mengambil dua lembar tissue, dan iapun mendekat ke wanita di hadapannya. Ingin menyeka air mata itu.

Ola bingung. Ia biarkan saja, atau ia tolak uluran tangan Elang? Terlalu lama berpikir, tangan Elang sudah ada di depan wajahnya.

"La," ucapnya lembut sambil menghapus air mata wanita kesayangannya.

"Hapus dulu air matamu. Apa yang kau tangisi?" lanjutnya.

Sore itu mendung, semendung hati Ola yang tak tahu harus merasakan apa lagi. Mati rasa. Telepon dari Atika, istri Elang di siang bolong membuatnya terkejut dan merasa bersalah. Hingga akhirnya sore ini ia memutuskan untuk bertemu Elang untuk terakhir kalinya.

"Kau tahu aku bersamanya," Elang berkata pelan.

"Kau menyalahkan aku?" nada Ola meninggi.

"Kau pikir ini salahku?" ucap Ola menegaskan.

"Siapa yang memulai ingin bertemu? Siapa yang memulai berkata rindu? Siapa yang memulai membahas hal-hal yang semestinya tak perlu dibahas? Aku?"

Elang tak bisa berkata apa-apa. Ia terdiam. Ucapan Ola benar semua. Elang yang mulai pertemuan mereka, Elang yang mulai berkata rindu, Elang yang mulai menceritakan situasi rumah tangganya yang tak seasyik dulu, Elang yang mulai. Tapi Ola menyambutnya.

"OK. Baik. Ini memang salahku,"

"Iya, memang ini salahmu. Lalu kenapa Atika menyalahkan aku?"

"Ia tak hanya menyalahkanmu. Iapun menyalahkanku. Ia membenci kita berdua,"

"Bukan urusanku dia membencimu. Kau layak dibenci!"

"Aku benci kamu,"

"Kata itu terlalu kuat, La. Kau boleh tidak menyukaiku, tapi membenciku? Kau takkan pernah membenciku. Bahkan dulu saat kau meninggalkanku begitu saja, itu juga bukan karena kau membenciku. Kau hanya kecewa denganku. Ya kan? Kau menyambutku karena kaupun tak pernah membenciku. Deep down inside, you always love me,"

"Elang!" teriak Ola.

"Cukup! Kau pulang saja sana. Sana. Sana," Ola beranjak dari duduknya dan menggeser kursi Elang, mencoba membuatnya berdiri agar ia bisa mendorongnya pergi.

"Ola, Ola.. kau tahu aku takkan pergi, lagi," Elang meraih tangan Ola. Mencoba menenangkannya.

"Ya Tuhan, Elang. Lepaskan aku, kumohon," Ola kembali menangis.

"Aku tak ingin melepaskanmu lagi, La. Tidak kali ini. I did it once, and I won't do it anymore. I will stay,"

"Elang, kau tak bisa begini. Please, mengertilah,"

"Aku mengerti, La. Sangat mengerti."

"Apa yang harus kulakukan, Lang?" Ola kembali duduk dan suaranya sayup terdengar.

"Entahlah. Akupun tak tahu apa yang harus kulakukan," Elang membetulkan letak kursinya. Menatap wanita kesayangannya, lalu menunduk.

Sunyi. Senyap. Keduanya memilih sibuk dengan pikiran masing-masing... Entahlah.




Artikel Terkait

A & E (77)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email