Monday, August 20, 2018

A & E (75)

Hi there,
It's been a while since the last time we spoke. How are you? I am sorry that the last time you talked to me wasn't such a nice conversation. I think we could be friends once again. Let's be stranger. How's that sound?


--
Ola mengetikkan kalimat-kalimat itu di tuts keyboardnya. Ia ingin menyapa lagi Elang. Ingin bertanya apa kabarnya. Apakah pernikahannya masih baik-baik saja? Apakah dia sudah mampu menghilangkan Ola dari benaknya? Apakah ia dan Atika sudah menerima kenyataan bahwa Elang pernah sekali lagi jatuh cinta pada Ola? Apakah anak-anaknya tidak pernah melihat pertengkaran ayah ibunya? Apakah ia masih menyukai coldbrew? Apakah dan apakah yang lainnya, berkumpul dengan bagaimana dan bagaimana selanjutnya.

"Jantung yang berdegup kencang belum tentu rindu. Bisa jadi ia hanya kebanyakan caffeine," ucap Ola suatu hari ke Elang. Saat itu mereka masih sering menghabiskan waktu bersama, sebelum Ola meninggalkan Belanda.

"Ya, tapi rindu akan menghasilkan efek yang sama,"

"Rindu belum tentu masih cinta. Rindu hanya pembuktian bahwa otak kita punya memori," jawab Ola.

"Ah, sepertinya aku pernah tahu ucapan itu,"

"Iya, aku mengutipnya dari sebuah buku, atau syair lagu, atau apa ya? Aku lupa,"

"Haha, kau memang pelupa,"

"Hei, jangan lupa bahwa lupa merupakan anugerah Yang Kuasa. Kau tak mungkin mengingat semuanya, dan justru kalau kau ingat semuanya, bisa jadi kau tak punya nyali untuk berbuat apa-apa,"

Sepenggal fragmen itu berkelebat di benak Ola. Ia rindu saat-saat mereka hanya menjadi teman, tak perlu banyak sandiwara dan drama. Tak seperti sekarang. Pandangan mata Ola mengabur dan ia merasa sedih. Ia menyesali tindakannya untuk menerima kembali uluran pertemanan Elang. Dan kini, ia hendak menyambungnya kembali? Apa kata dunia? Tak ada pria lain selain Elang?

Ola gundah. Tulisan tadi ditatapnya sekali lagi. Tak mungkin aku memulai sesuatu yang sudah kuakhiri. Ya Allah, kuatkan aku dalam keputusanku. Biarkan aku merasa cukup tanpanya, merasa kuat hanya bersamaMu, dan tak butuh selainMu. Aamiin. 

---

Kembali terngiang ucapan Elang beberapa waktu yang sudah berlalu, "Kau bisa merencanakan dengan siapa kau menikah, tapi tak bisa kau merencanakan dengan siapa kau jatuh cinta,"

Ola menutup laptopnya, menghela nafas panjang dan memejamkan matanya. Kedua tangannya dilipat di dahinya. Ia sungguh-sungguh memohon kekuatan untuk melupakan kenangan bersama makhluk yang tak mungkin dimilikinya lagi.





Artikel Terkait

A & E (75)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email