Tuesday, August 14, 2018

A & E (74)

"Keputusanku untuk meninggalkannya kuambil tak semata karena emosi. Aku benar-benar memikirkannya dengan matang. Aku menghitung semua pro dan kontra jika bersamanya. Aku meninggalkannya dengan kesadaran penuh dan hati yang terluka. Pun aku tak menerimanya kembali karena aku tahu, dia hanya menyukai satu sisi diriku, padahal aku tak hanya punya satu," Ola menghembuskan nafas panjang mengenang masa lalu.

"Dan kalaupun aku kini masih menyukainya, mungkin itu karena dia adalah kawan yang baik, itu aja,"

"Kurasa aku mesti belajar menerima kekecewaan, karena ini bagian dari pendewasaan, ya kan?"

"Ya, La. Kau sudah tahu semua jawabannya," sahut Maria.

"Tapi aku tetap butuh kau, Mar,"

"Tentu. Kau saat ini ada di jurang kebodohan yang terdalam. Palung perasaan yang kau sendiri tak pernah sadari kehadirannya. Aku tak bisa membantumu jika kau tak ingin keluar dari situ."

"Apa kau ingin keluar dari situ?" tanya Maria menanyakan kemantapan hati Ola.

Ola terdiam. Palung perasaan yang tak pernah aku sadari, pikirnya.

"Ya, aku ingin. Aku siap menangisi kebodohanku. Aku hanya tak ingin berlama-lama di sini."

"OK. Maka program hari pertama yang perlu kau instal di benakmu adalah: kau bodoh, dan kau siap untuk keluar dari kebodohan ini,"

"What?"

"Langkah pertama sebuah perbaikan adalah menyadari kesalahan."

"OK,"

"Ini tandatangan di sini," Maria menyodorkan satu lembar kertas HVS bertuliskan "Surat Pernyataan Permintaan Pertolongan Pertama pada Patah Hati". Di bacanya butir-butir perjanjian di situ, dan salah satunya tertulis:
Aku setuju akan mengkonsultasikan dan menceritakan hal-hal yang dapat membuatku bimbang untuk melupakannya.

Artikel Terkait

A & E (74)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email