Monday, July 30, 2018

A & E (73)

"Ceritakan padaku awal mula kau menyukai berkebun,"

"Ketika dulu aku kecil, aku suka main ke rumah tetanggaku. Bu Edy namanya. Entah siapa nama aslinya. Kau tahu kan orang senang memanggil istri dengan nama suaminya. Bu Edy ini kawan baik ibuku. Beliau punya halaman depan, yang, hmm, kau tak bisa sebut sebagai taman; melainkan lebih sebagai hutan. Haha. Aku sering main ke sana, main masak-masakan daun-daunan campur tanah dan air keran," Maria tertawa mengenang masa kecilnya di sebuah gang sempit.

"Beliau punya banyak sekali tanaman. Pun di kebun belakangnya, penuh dengan tanaman daun-daunan. Yang kata orang sekarang, urban jungle," ia melanjutkan.

"Hm, lalu?"

"Lalu ya seperti itu. Di rumah ibuku juga banyak tanaman, meski tak sepenuh urban jungle-nya tetanggaku itu. Beberapa tanaman yang sangat kuingat, kau tahu bunga kertas? Atau bunga telekan? Yang warnanya kuning?"

Ola menggeleng.

"Ya, tanaman-tanaman tertentu mengingatkanku akan masa kecilku yang menyenangkan. Jauh sebelum ibu sakit. Dan kurasa, ketika menanamnya, mengurusnya, menyiangi tanahnya, memotong daun atau ranting yang telah kering, kurasa, aku menemukan sebenarnya aku sedang mengurus jiwaku sendiri," pandangan Maria menatap jauh ke depan.

Di kursi teras rumah Maria, ditemani dua cangkir teh panas, mereka berdua menikmati each others' company. Ibu Nanik, ibunya Maria, sedang ada di dalam rumah dan mengkristik sebuah karya. Kalau tidak salah lihat, akan ada dua buah tangan yang menengadah dan meminta kepada Allah SWT.

"Ibu sehat ya Mar?" tanya Ola sambil menoleh ke arah Bu Nanik yang sedang asyik.

"Alhamdulillah,"

"Masih minum obat?"

"Masih, masih rutin. Tapi melamunnya sudah jauh berkurang. Ia sudah tak sesering dulu mengigau dan marah-marah. Kau tahu apa yang aneh, Mar?"

"Apa?"

"Ketika memasak, ibu akan tahu betul rasa yang ia cari. Ia seperti dulu. Terlebih lagi saat aku mulai membeli tanaman-tanaman; sansiviera, shanghai, terus tanaman gantung yang gendut-gendut itu; perhatian Ibu mulai tercurah untuk tanaman. Ini alhamdulillah Ibu sedang sehat betul, ia bisa mengkristik karyanya yang belum selesai. Ajaib. Semua kuasa Allah,"

"Alhamdulillah..."

"Iya. Melihat ibuku kembali beraktivitas dan kembali sibuk seperti ini sudah cukup membahagiakan. Meski beliau belum bisa berbincang lama seperti dahulu, namun ini sudah cukup buatku." Maria memandang ibunya dengan penuh kasih.

Bu Nanik sedang asyik dengan kristiknya, beliau menghitung kotak-kotak yang mesti diberi benang warna biru.

Hanya syukur yang mampu mewarnai kelabu. Hanya syukur yang bisa mewarnai gulita. Hanya syukur yang kuasa melukis tawa dan bahagia...

Artikel Terkait

A & E (73)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email