Friday, July 27, 2018

A & E (72)

Namanya Maria. Lengkapnya Maria Indah Permatasari. Dia bijaksana karena hidup telah mengajarinya hal-hal yang melebihi orang-orang seumurnya. Orang tuanya berpisah saat dia berusia lima tahun. Anak tunggal, sama dengan Ola. Tak punya saudara seayah atau seibu. Ayahnya bekerja di kapal pesiar dan tak pernah ada kabar setelahnya. Maria memutuskan bahwa ayahnya telah meninggal dunia atau mempunyai kehidupan baru.

Menikah di usia 18 tahun, setelah beberapa tahun, dia hamil. Suaminya rupanya tak menghendaki bayi itu, maka suaminya pergi dan mentalak Maria. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Bayi yang dikandungnya pun keguguran di usia kehamilan 4 bulan. Saat itu Maria berusia 21 tahun. Belum bekerja tetap, dan tinggal bersama ibunya yang kurang sehat secara mental.

Maria menemukan ketenangannya tiap kali ia melihat pemandangan, alam, dan warna daun hijau. Dia seringkali mengajak ngobrol tanaman yang tumbuh di halamannya. Memberi makan kucing-kucing jalanan yang kelaparan dan singgah sebentar di rumahnya. Hingga satu hari di usianya 22 tahun, dia menemukan sebuah buku resep masak di gudang. Rupa-rupanya itu resep-resep ibunya yang ditulis beliau saat beliau sehat. Satu per satu resep-resep itu diperhatikannya, dan dipraktikkannya. Ajaibnya, ibunya menjadi hampir normal ketika beliau mencicipi masakan itu, jika rasanya sesuai. Jika rasanya kurang asin atau kurang sesuai dengan lidah beliau, beliau akan segera menuju ke dapur dan mengoreksi rasa. Pandangan mata beliau yang biasanya kosong, karena kata dokter beliau  depresi, berubah menjadi berbinar-binar saat meramu masakan.

Saat itulah Maria melihat sebuah keajaiban. Obat dari penyakit yang diderita ibunya adalah kesibukan dan rasa masakan yang dinikmatinya. Perlahan semenjak hal itu disaksikannya, Maria mempraktikkan semua resep yang ada di buku itu. Mulai dari huzarensla, hingga kue sus isi vla. Ia menikmati prosesnya, terlebih lagi ketika melihat ibunya seolah telah kembali tiapkali beliau mencicipi masakannya.

Keajaiban rasa. Maria menemukan tujuan hidupnya kembali. Ia hidup untuk membahagiakan orang-orang dengan masakannya.

Maka mulailah ia berjualan kecil-kecilan di depan rumahnya. Sekedar es dawet (cendol, pen), dan gado-gado. Ibunya yang meracik bumbu, Maria yang berbelanja ke pasar. Ia riang sekali. Senyum merekah di wajahnya seolah duka tak pernah dikenalnya. Orang-orang melihat perubahan keluarga itu dan satu per satu mempromosikan gado-gado Maria, awalnya karena kasihan, ternyata di situlah keberkahan harta halal tersimpan...


Artikel Terkait

A & E (72)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email