Tuesday, July 24, 2018

A & E (71)

Menuliskan tentangmu tak pernah mudah. Terlalu banyak gambar kenangan berlarian di benakku, tak tahu mana yang terlebih dahulu mesti aku tangkap. Meski beberapa lagu selalu mengingatkanku tentangmu, menuliskan satu per satu di sini, untuk memberikan hatiku ruang untuk bernafas, tak semudah teori.

Aku bisa saja duduk dan mengetikkan beberapa baris kata. Tapi apakah itu cukup untuk membuka satu celah nafas untuk melupakanmu?

Aku bisa saja menuliskan pengalaman-pengalaman saat bersamamu, yang kuharap itu bisa mengobati luka kerinduanku; tapi apa justru itu membuatku makin merinduimu?

Melepaskan dari bayang dirimu tak pernah mudah. Tak mudah dulu, tak mudah kini, tak mudah nanti.

Walau aku memutuskan untuk tetap bersamanya, tak berarti tak kusisakan ruang di hatiku untukmu kembali, Ola. Di salah satu pintu hatiku sudah terpahat namamu dengan indah. Kuisi dengan berbagai cerita kita, keluguanmu, kenangan kita, tawa tangis kita; dan itu akan tetap di sana. Tak ingin aku menggantinya dengan yang lain. Pahit? Mungkin memang pahit. Tapi bukankah pahit juga bagian dari kelezatan? Buktinya, Tuhan menciptakan lidah yang mampu mengenali rasa pahit. Itu artinya Tuhan sudah melengkapi kita untuk mengenali rasanya, mengenali teksturnya, lalu mengkategorisasikannya.

Dan dirimu, masuk di kategori itu.

Tak bisa kupungkiri walau hendak rasanya aku ingkari.

Tak akan ada lagi kehidupan kedua. Tak akan ada lagi kesempatan kedua untuk kita, Ola. Kesempatan itu sudah pernah kita dapatkan, dan kau lewatkan. Dan aku tak mau menunggu lebih lama untuk memiliki dirimu lagi. Aku memilih bersamanya. Suka duka bersamanya kurasa lebih arif daripada suka duka bersamamu, dengan kondisi seperti ini.

Maafkan aku yang telah masuk kembali ke hidupmu. Mencoba mewarnainya seperti yang pernah kulakukan dulu. Aku khilaf dan aku ingin maafmu. Asal jangan kau suruh aku untuk menghapus rasa dan harapan bersamamu, itu sudah cukup. Aku akan menjauh, menghilang dari hidupmu, sama seperti dulu. Dan cukup hanya kunikmati kilaumu dari kejauhan. Karena aku tahu, kau bisa hidup tanpaku, dulu, dan nanti.

Terima kasih Ola. Atas segalanya. Atas pelajaran berharga di hubungan kita. Kau ajari aku untuk dewasa, kau ajari aku untuk kembali menjadi anak-anak juga.

Terima kasih Ola. Kau tahu kau akan ada dalam setiap doaku yang terpanjat meratap belas kasihNya.





Elang (yang dulu Elangmu)




Artikel Terkait

A & E (71)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email