Friday, May 25, 2018

A & E (65)

"What is a happy ending, Mar?" tanya Ola yang duduk menikmati teh manis panas dan kacang oleh-oleh Maria dari Bali.

"Maksudmu?" Maria memotong bawang bombai yang rencananya ia jadikan salah satu bumbu di ayam goreng menteganya.

"Ya, apa arti happy ending bagiku dan Elang?"

"Ya, akhir yang bahagia, toh?"

"Ya, jadi aku bukan happy ending karena ku tak bersamanya?" Ola memutar-mutar sendok di cangkir warna abu-abu.

Maria memindahkan satu per satu potongan ayam yang sudah direbusnya dengan bawang putih ke penggorengan.

"Jesss"....suara minyak panas beradu dengan ayam yang sudah direbus.

"Ya, mungkin. Tergantung bagaimana kau melihatnya. Bukankah katamu takdir tak pernah salah?" tanya Maria sambil tak memindahkan perhatiannya dari bakal masakannya.

"Iya. Aku mulai menyadari penyesalanku,"

"Ini karena kau bertemu lagi dengannya, kan? Sebelumnya kau baik-baik saja,"

"Iya. Pertemuan dengannya seolah membangunkan kenangan-kenangan yang sudah lama tertidur, yang kuanggap mati, ternyata hanya idle," diseruputnya teh manis yang sudah tak lagi mengepulkan asap.

"Jadi?"

"Ya aku teringat dan ingin menyelesaikan semuanya. Tapi justru saat inilah aku menyadari bahwa the reason kenapa aku belum bersama yang lain adalah karena bayangannya terlalu kuat. Bagiku yang cocok denganku ya dia, setidaknya orang seperti dia. Yang memahamiku ya dia. Kesadaran yang baru kutemukan setelah reuni ini," Ola menarik nafas panjang dan dalam. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, mungkin karena emosi yang meluap ingin segera ditumpahkan.

Ayam-ayam yang sudah digoreng tadi ditiriskan Maria sebentar, lalu dimasukkan ke penggorengan kedua, tempat saus sudah tercampur rata. Berisi kecap inggris, saos tomat, kecap manis, gula, garam, merica. Aromanya semerbak memenuhi dapur bernuansa hitam putih merah.

"OK, I am listening," katanya.

"Jadi aku tak happy ending? He's taken. Dan ini membuatku feel bad about myself. If the good ones are taken, apa artinya I am a bad ones?"

"Hush! Mana boleh berpikiran seperti itu!" Maria mengingatkan sambil memasukkan irisan bawang bombay ke dalam saus.

"Memang apa pentingnya happy ending dengannya? Bukankah kau dulu yang menolaknya? Kau yang pernah sakit hati karenanya? Lalu sekarang karena dia sudah menikah, kau merasa inferior?"

"Look, dia menikah, tak bahagia, lalu dia mencariku. Do you think this is a sign? That I should be with him, once again? For good?"

"Wait," Maria mengecilkan api di kompornya.

"Are you losing your mind? You expect him to leave his family and start a new one with you? What would his wife feel?" Maria mulai jengah, intonasinya meninggi.

"Iya. Am I crazy?"

Maria mengaduk saus dan ayamnya lalu menambahkan dua sendok makan mentega. Exactly like the recipe taught her.

"Iya, sepertinya," jawab Maria datar. Berbincang dengan Ola di saat Ola sedang lemah begini benar-benar membutuhkan konsentrasi tinggi. Tugasnya hanya satu, mengembalikan Ola ke pikiran logisnya untuk melihat segalanya lebih jernih dan objektif.

"La, kita belum tahu akhir cerita hidup kita karena kita masih hidup. Happy ending itu ya khusnul khotimah. When you're smiling when death comes," Maria mulai filosofis.

Ola terdiam. Dikunyahnya kacang perlahan-lahan. Dinikmatinya pemandangan dapur Maria. Muncul bayangan Elang yang beberapa minggu lalu ditemuinya dan bertanya padanya

"Aku punya ide gila, bagaimana jika kita bertemu dengan Atika dan kita sampaikan ke dia bahwa kita akan menikah?"

"Elang, elang, kau memang gila."

"I am. Crazy about you. After all these years, damn it, you're irreplaceable,"








Artikel Terkait

A & E (65)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email