Wednesday, May 23, 2018

A & E (63)

"Elang sakit, La," jawab Wisnu ketika ia mengangkat telpon Elang.

"Dia tak bisa bicara denganku?"

"Dia demam, menggigil. Kau mau kemari?"

"Mungkin nanti setelah kerjaanku selesai. Kau bisa jaga dia sampai jam berapa?"

"Aku bisa sampai jam lima sore. Aku kerja jam 6,"

"Baiklah. Cukup kayaknya aku ke sana setelah ini," Ola melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Masih jam 3 sore, masih bisa kekejar kereta 16.01. Kerjanya selesai beberapa menit lagi, lalu naik sepedanya.

"OK. Kau jaga dia dulu ya, many thanks, Nu,"

"You're welcome, Ola," Wisnu menutup telponnya.

Wisnu tinggal satu gedung, hanya beda lantai dengan Elang. Apartemen di bilangan Amstelveen ini memang banyak dihuni mahasiswa yang kuliah di Amsterdam.

Bertemu dengan Elang bagaikan jendela-jendela yang diciptakannya di antara benteng-benteng jadwal mereka. Sebagai mahasiswa yang dituntut selesai tepat waktu, tugas-tugas banyak menyita waktu dan perhatian. Apalagi dengan tambahan kerja part time yang dipakainya menyambung hidup dari bulan ke bulan, maka waktu bertemu dengan Elang amatlah berharga.

No one is too busy, they just don't want to make time.

Masalahnya bukan terletak pada sempat atau tidak. Masalahnya ada di maukah menyempatkan atau tidak. Bertemu dengan Elang jelas bukanlah genting dan penting. Ia hanya penting, maka ia perlu dijadwalkan. Namun untuk saat-saat seperti ini, pertemuan dengan Elang masuk ke ranah penting sekaligus genting.

Ola tak sampai hati membiarkan Elang sendirian. Minimal ia sempatkan ke sana untuk menyiapkan beberapa hal, membantu membereskan laundry, atau sekedar menemani Elang dan memandang wajah lunglainya yang terlelap.

Segera setelah pekerjaannya selesai, dikayuhnya sepeda putih khas onthel zaman Belanda-nya menuju stasiun Haarlem. Ia beli karcis dan segera duduk di bangku manapun yang kosong di sneltrein jurusan Amsterdam.

"Alhamdulillah masih terkejar," ujarnya dalam hati.

Ola berencana mampir sebentar ke toko Asia untuk membeli ice cream matcha kesukaannya dan Elang, tapi diurungkan niatnya karena ia ingat Wisnu akan segera berangkat kerja.

"Wisnu, halo" Ola menelepon Wisnu.

"Ya, La?" jawab suara di seberang.

"Elang bangun? Tolong tanyakan ia mau aku bawakan apa,"

"Bangun, La. Katanya cukup bawa senyummu aja itu sudah cukup," balasnya.

"Oh okay." Ola menutup telpon dan menyunggingkan senyum. Elang selalu tahu cara merayu, bahkan dalam sakitnya sekalipun. Kereta berjalan, mendekatkan jarak antara dua insan yang saling merindu.

Artikel Terkait

A & E (63)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email