Monday, May 21, 2018

A & E (62)

Namaku Arya, tepatnya Muhammad Arya Subagya. Ya, namaku campuran dari berbagai bahasa. Aku kawan Ola dan Elang. Akupun tahu Wisnu diam-diam menyukai Ola, walaupun itu tak mungkin baginya. Karena ia mesti menikah dengan sesama suku, begitu pesan mendiang ayahnya. Sehingga tak mungkin baginya menikung Elang dan mendapatkan Ola, walaupun kesempatan itu ada. 


Aku memilih tak terlampau dekat dengan mereka berdua. Ya, jelas aku tak mau disamakan jadi teman untuk mereka. Tempat curhat masalah percintaan yang sebenarnya akupun sama sekali tak ingin tahu. Jadi aku lebih diam. Tak seperti Wisnu yang memang menjadi pelabuhan mereka. Haha. Aku bukannya kejam, tapi aku ini masih manusia. Aku tak bisa berpura-pura tak menginginkan apa yang dipunyai Elang, ya kan? Daripada aku tersiksa, mending aku belajar dan menyelesaikan kuliahku dengan baik. Aku berencana meneruskan S2 di Universiteit Vrije Amsterdam, tapi tak mungkin. Ayah ibuku ingin aku pulang dan meneruskan saja di Indonesia. Aku masih belum tahu, mungkin nanti akan kuputuskan. 

Ya sebagai anak yang berbakti, tak mungkin aku tak pulang demi ambisi. Kan, surga ada di bawah telapak kaki ibu. Tak mengapa, aku rasa dengan restunya, aku bisa mencapai dan mendapatkan apa yang memang menjadi takdirku nantinya. Termasuk Ola. Jika tidak, ya yang lebih baik darinya. Wanita tak hanya dia. 

Hobiku fotografi. Aku tak terlalu pandai merangkai kata. Kurasa, alam sudah indah berkata-kata, maka aku belajar untuk menangkap kecantikannya. Aku suka traveling, dan memotret objek di sana. Bukan, bukan untuk selfie dan membuktikan pada dunia bahwa aku telah sampai sana; justru sebaliknya. Aku ingin dunia tahu bahwa ada dunia lain di luar apa yang biasa dilihatnya. 

Tiada yang lebih indah dibanding keberhasilanku menangkap keindahan alam dan mengabadikannya dalam sebuah potret. Dengan berbekal kamera seadanya, ya, aku sempat mempunyai ber-rol-rol pita film yang belum sempat ku developed. Berada di kamar gelap adalah tempatku berkreasi, tanpa batas. Mencium aroma cairan pencetak foto, menggoyang-goyangkan kertas untuk mendeveloped negative, benar-benar sebuah sanctuary. Tempatku bermeditasi. 

Aku tak pandai dengan manusia. Kurasa manusia mempunyai begitu banyak misteri di dalamnya. Alam, lebih mudah diterka. Ia jujur apa adanya. Maka untuk melupakan keinginan memiliki Ola, aku menghabiskan waktu dengan memotret. Entah itu daun oranye yang jatuh ke tanah, tetes embun, atau mata indah kucing milik Sari yang kujadikan objek foto. 

Sari? Dia kawanku. Dia lucu dan baik hati. Polos sekali dia. Aku suka padanya? Ah, tidak. Sari hanya a good friend. Dulu pernah aku baca kalau wanita dan pria tak mungkin berkawan, tapi aku dan Sari bisa. Alasannya? Kami beda agama. Hahaha. Simpel, kan? 

Sebenarnya, Ola tak pernah melirikku. Pandangannya hanya tertuju pada Elang. Aku tak keberatan, karena aku juga lebih sibuk memperhatikan perubahan bunga dan daun, dibandingkan perubahan moodnya. 

Tinggiku 178cm. Lumayan tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Tapi di mata Ola, Elang yang tingginya hanya 170cm itu sudah cukup menarik rupanya. Jadi, aku lebih suka menghabiskan waktu untuk menggambar. Oh ya, aku belum cerita ya? Aku suka menggambar. Dari kecil aku tak terlalu suka menulis, oh aku sudah sampaikan itu, kan? Kata orang, aku orang visual. Aku tak bisa bermain gitar seperti Elang. Katanya memang wanita lebih suka pria yang romantis, artis, makanya Elang begitu memikat. Ya, dengan suaranya yang lumayan, Elang membuat puisi atau menuliskan lagu, lalu menyanyikannya di depan Ola. Siapa yang tak suka? Kurasa Ningsih juga diam-diam menaruh hati untuk Elang. Hanya saja, ia tak berani atau tak mungkin mengutarakannya. 

Jadi ya, begitulah aku. Kau bisa memanggilku Bagya. Atau Arya. Sesukamulah. Namaku yang ada "Muhammad"nya ini beberapa kali kena cekal pihak imigrasi, dikira teroris lah, dikira ekstrimis lah. Mereka belum tahu kalau Muhammad artinya adalah "Yang Terpuji". Mahmed, Ahmad, sama. Turunan dari kata Muhammad. 

Maka, aku ingin katakan padamu, aku tak peduli apakah sekarang Ola dan Elang, ataukah Ola dan Wisnu, atau Wisnu dan Ningsih atau bagaimana sajalah. Karena aku percaya, Tuhan yang menciptakan alam dengan sempurna ini, pasti membuat skenario terbaik untuk diriku. Yang terindah, kadang misterius. Aku hanya perlu mencari sudut yang tepat untuk membidiknya. 

Artikel Terkait

A & E (62)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email