Saturday, May 19, 2018

A & E (60)

"Eh, lanjutkan lagi tentang distractor tadi, lang. Aku kurang paham arah pembicaraanmu," lanjut Wisnu.

"Ya, bahwa dia, Ola (sambil menekan nada bicaranya), mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk mendistraksi aku dari hal yang mestinya aku kerjakan."

"Bukannya kalian memang selalu, ehm, hampir selalu Skype-an? Ya jelas terdistraksilah kau."

"Iya. Dan kau mesti tahu kenapa." Elang membela diri.

"Kenapa?"

"Dia semangat pagiku. Kami punya ritual kecil untuk menyapa lebih dulu dialah pemenangnya. Dan aku terbiasa dibuatnya bangun dengan harapan aku mengucap selamat pagi padanya. Dan tiap malam, aku ingin yang terakhir mendengarkan suaranya."

"Kalian seperti terobsesi satu sama lain,"

"Benarkah? Aku tak pernah berpikir demikian. Kurasa kami hanya saling menginginkan."

"Tipis bedanya antara obsesi dan keinginan,"

"Dan kau sekarang menjadi psikolog tentunya," ujar Elang setengah mengejek sahabatnya.

"Ya untuk mendeteksi keanehan kalian tak perlu seorang belajar psikologi. Jelas tampak di depan mata bagai gajah dan semut di pelupuk mata,"

"Hmmm, begitu ya rupanya,"

"Ya. Jadi, kau sekarang menganggap Ola sebagai pengganggu?"

"Aku tak pernah berkata demikian,"

"Distraksi sama dengan gangguan, kan?"

"Ya. Maka saat-saat aku butuh konsentrasi, butuh keheningan, sulit sekali aku menolak rajukan manja Ola yang tetap ingin Skype-an,"

"Hm, lalu kau shut her down?"

"Ya kadang aku perlu melakukannya,"

"Dan kau pernah berpikir apa efeknya untuk dia?"

"Sering,"

"Lalu?"

"Man's gotta do what man's gotta do," jawab Elang kalem.

"Even when it means you shut her out from your life,"

"When you need to go, you go. Sesederhana ini,"

"Yah, terserah kau saja,"

"Ada apa memangnya? Ola cerita apa?"

"Cerita cukup untuk mengambil kesimpulan bahwa kau sedang ada di emosi labil tapi kau akan segera make the most of it somehow,"

"How?"

"She trusts you, you know. Dia membiarkanmu mengabaikannya. Mengeluarkanmu dalam hidupnya adalah seperti membunuh separuh dirinya, itu yang dia katakan padaku. Dia sangat bergantung padamu, dan saat kau putuskan tali itu, dia ... ah, untung dia tak sepertimu yang bisa loncat dari jendela,"

"No, she won't. She is a strong girl."

"Ya, dia akan memberimu waktu, persis seperti kau memberinya waktu,"

"Ya. Itu yang kubutuhkan,"

"Good. Jadi kau masih kangen dia?"

"Every second of my life, I am missing her,"

Kereta melaju dengan kecepatan stabil. Mengantarkan dua anak muda ini ke kota yang terkenal dengan kerajinan Delft Blauw-nya. Di Delft mereka akan bertemu seseorang yang akan mengubah cara pandang mereka tentang pemuda dan politik beberapa tahun lagi. 

Artikel Terkait

A & E (60)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email