Saturday, May 19, 2018

A & E (59)

Aku tahu bahwa buku adalah kawan terbaik. Dia tak pernah menasihati dengan kasar, dia lemah lembut dan membuat diri bercermin dalam keadaan ikhlas dan pasrah. Ia menasihati tanpa menampar, tanpa membentak. Ia memberikan jendela kebijaksanaan dalam untaian kata-kata yang telah dihasilkan dari sari pati pemikiran. Ia bagai inti dari segala inti yang dengannya semua bisa terhubung padanya.

Maka kata, tajamnya lebih tajam dari pedang. Yang lukanya bisa terus menganga jika tak diizinkan untuk disembuhkan. Kata, akan memberikan memori-memori indah, atau kesedihan. Maka kata mesti dimaknai. Seperti masakan yang perlu diberi bumbu yang berbeda untuk menghasilkan cita rasa berbeda. Kata, bagai bahan mentah yang dengannya ia bisa menjadi apa saja.

Seperti wortel dan buncis, ketika dikukus, dia bisa jadi kawan bagi steak apapun yang disediakan di atas loyang panas berbentuk sapi, berharga ratusan ribu rupiah. Namun wortel dan buncispun bisa menjadi kawan di rumah sederhana ketika ia ditumis dengan berkawan bawang merah dan bawang putih, sedikit garam, merica, dan gula.

Wortel dan buncis tak pernah mengeluh dengan apa mereka dimaknai, bagaimana mereka diolah, dengan siapa mereka disajikan. Persis seperti kata. Ia hanyalah kata. Ia menyerah pasrah pada pelontarnya. Ia membungkam seribu bahasa pada penerimanya. Ia membiarkan penerimanya mengartikan sendiri, dengan pemahamannya sendiri, untuk dicerna sendiri.

Maka manusia sejatinya adalah peramu rasa, pemberi makna, dan pengolah kata.

Membaca tulisan Romo Mangun, menyadarkanku bahwa aku tak sendiri dalam pertempuran ini. Pertempuran melawan diri sendiri ini juga dialami oleh Atik dan Teto. Akulah Atik. Dan Elanglah Teto. Hanya saja, di cerita itu, Atik sudah berkeluarga, sedangkan Teto masih menduda saja. Terbalik denganku. Elang sudah memutuskan berkeluarga dengan Atika, dan aku masih sendiri. Aneh bagaimana buku itu mendekat padaku saat aku ingin mencari jalan keluar akan masalah yang sedang kuhadapi.

Sebentar lagi Ramadhan, mungkin aku perlu berkaca pada Teto, bagaimana ia menahan dirinya, walau ia tahu perasaan Atik dan perasaannya masih sama, seperti berpuluh-puluh tahun yang lalu. Hidup telah menjalankan perannya. Perpisahan mereka, disebabkan kepengecutan Teto terjawab sudah. Pun pertemuan mereka kembali yang diatur manis oleh takdir, seolah membuat mau tidak mau Teto menghadapi ketakutan terbesarnya. Melawan dirinya sendiri. Menemukan makna akan misteri hidup yang telah digariskan untuknya.

Tak perlu kematian Atik dan Jana yang memisahkan antara aku dan Elang nanti. Biarkan aku mundur dengan teratur. Dengan menerima kekalahan ini. Kekalahan pada takdir, pada kepongahanku dulu. Biarkan aku menjelma menjadi seekor kupu yang telah siap mewarnai indahnya taman-taman dunia, namun kini mesti kunikmati perihnya menjadi seekor kepompong.

Romo Mangun, tulisan-tulisannya sarat makna, berbobot, dan entah kenapa, kata-kata yang beliau gunakan begitu tajam mengiris cepat membuat yang terluka tak sadar telah mengucurkan darah. Begitu indah beliau menuliskan rollercoaster perasaan dan perilaku manusia.

Ramadhan, tolong aku. Ingin aku diterapi olehmu....


Artikel Terkait

A & E (59)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email