Saturday, May 19, 2018

A & E (58)

"Iki, tak kek'i PR*," kata Popo untuk menyambut sahabatnya kali ini. Muka Elang lusuh, tampak tak tenang, guratan-guratan usia mulai nampak di pinggir matanya. Mungkin Ibukota telah memakan energinya berlebihan.

"Iya. Manut," jawab Elang. Perjalanan ke Malang kali ini memang istimewa. Hanya untuk menenangkan diri dia rela menghabiskan waktu di rumah kecil yang jauh lebih sederhana dibanding rumahnya di Jakarta.

"Jadi Lang, tugasmu selama Ramadhan besok hanya ini," ujar Popo sambil menyerahkan secarik kertas berisi daftar pekerjaan yang wajib dilakukan Elang untuk mendapatkan kembali ketenangan dirinya.

"Semuanya berhubungan dengan ibadah," celetuk Elang. Dibacanya perlahan tulisan Popo yang rapi bertinta biru. Tak biasanya orang Indonesia memakai tinta biru, biasanya tinta hitam. Popo memang lain. Mungkin karena itulah ia memilih menjadi kyai walaupun perawakannya sama sekali tak tampak seperti kyai. Siapa yang mengira dia lulusan salah satu pesantren di Solo, Jawa Tengah. Hobinya nyanyi rock, rambutnya jangan ditanya gimbalnya atau tidaknya. Tapi kalau sholat tidak pernah bolong di masjid. Mau di perjalananpun, ia akan berhenti dan mencari masjid terdekat ketika suara adzan terdengar. Kontras. Katanya, orang yang berdakwah tidak melulu berpenampilan seperti seorang Zainudin MZ, da'i sejuta umat yang kondang dengan sorbannya.
  1. Ngaji satu hari dua juz 
  2. Sholat dhuha tiap hari 
  3. Tarawih tiap hari 
  4. Hafalkan minimal satu surat baru 
  5. Al Matsurat pagi dan petang 
  6. Tentunya puasamu tak boleh bolong.
"Ini saja?" tanya Elang setelah melihat enam hal yang perlu dilakukan selama satu bulan ini. "Tidak ada yang lain?"

"Cukup," jawab Popo.

"Ya sudah. Aku siap,"

"Sip," Popo mengacungkan kedua jempolnya. Tersenyum melihat sahabat lamanya.

Ramadhan akan menjadi kawah candradimuka bagi Elang, apakah ia mampu menaklukkan dirinya, mengendalikan jiwanya, menemukan kembali hubungan dengan Tuhannya, yang selama ini hanya menjadi rutinitas tanpa nyawa.

Ia akan menemukan jawabannya, nanti, setelah tiga puluh hari berlalu....

"Ramadhan, tolong aku..." ucap Elang lirih sambil membawa kopernya ke kamar ukuran 3x3 meter yang sudah disiapkan Popo untuknya.













*ini, kuberi pekerjaan rumah.

Artikel Terkait

A & E (58)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email