Thursday, May 17, 2018

A & E (57)

Sudah beberapa bulan sejak pertemuan entah keberapa kalinya antara Ola dan Elang di Bandung. Mereka memutuskan untuk benar-benar memutuskan hubungan itu. Sudah tidak sehat. Tak lagi bisa menjadi kawan. Mereka adalah kawan yang buruk.

Ramadhan hampir tiba. Elang akan menghabiskan waktu Ramadhannya di luar kota. Tidak di Bandung. Hubungannya dengan istrinya memburuk. Ia berniat untuk memperbaikinya. Apalagi kedua anaknya masih kecil-kecil, tak mungkin ia meninggalkan istrinya demi pertaruhan yang belum pasti. Elang merasa gundah. Di satu sisi, ia masih menyimpan rasa untuk Ola, dan masih menginginkannya. Ia tahu Ola masih belum berpasangan. Kesempatan itu masih ada. Sayangnya Ola tak ingin menjadi yang kedua. Padahal apa yang kurang dari Elang? Ia punya harta, punya kedudukan, dan punya popularitas. Tetap saja Ola tak bergeming. Masih menjadi Ola yang dulu. Idealis.

Atika, istrinya, mengultimatum akan meninggalkan Elang dan kedua anaknya jika Elang masih saja berkomunikasi dengan Ola. Ultimatum yang bukan biasa-biasa saja. Elang tahu istrinya akan punya hati untuk melakukannya. Atau mungkin justru ia akan meninggalkan Elang, dan pengadilan akan memenangkan istrinya untuk hak asuh kedua anaknya? Tapi Atika tidak punya penghasilan, pengadilan mungkin akan memenangkan Elang.

Pikiran Elang melayang ke tempat-tempat yang tak pernah ia kunjungi. Berbagai skenario tertulis, jika A maka B, jika B maka C. Langkah-langkah apa saja yang mesti ia lakukan untuk... Ia bingung untuk apa. Menyelamatkan rumah tangganya? Atika sudah bukan Atika yang dulu lagi. Yang dulunya sekufu, sekarang Atika terlalu sibuk memperhatikan tetek bengek rumah tangga, becanda seperlunya, dan ia lebih banyak kelelahan mengurus anak-anaknya. Salah sendiri Atika tak mau ada pembantu di rumah mereka, padahal Elang sudah menawarkan. Alasannya, "nanti kalau ada pembantu, aku ngapain?". Di sisi idealisme ini, Atika mirip sekali dengan Ola.

Atau justru ia sebenarnya ingin kembali bersama Ola? Menjalin apapun itu yang belum selesai. Menyelesaikannya dengan menjadikan Ola sebagai istrinya. Tapi apa jaminan bahwa ketika mereka menikah, semuanya akan baik-baik saja? Bagaimana jika Ola tak lebih baik dari Atika nantinya? Apalagi Ola yang tak akrab dengan anak-anak, bagaimana Ola bisa menjadi ibu dari kedua anaknya? Apakah yang menjadi jaminan bahwa ia tak akan meninggalkan Ola untuk seseorang yang lebih baik lagi nantinya ketika Ola berubah menjadi tak sekufu lagi? Tapi di satu sisi, keinginannya untuk memiliki Ola tiada terbendung. Ia hanya terkadang disadarkan bahwa mereka tak lagi anak muda yang berjalan di Grote Marktnya Haarlem, ketika anaknya memanggil "Papi".

Ia bingung betul.

Mungkin Ramadhan akan membantunya menjernihkan pikirannya. Mungkin....
Ramadhan tinggal dua hari lagi. Ia segera packing. Surat cuti sudah dikirimkannya. Ia akan menghabiskan waktu satu bulan di Malang. Ia butuh berkonsultasi dengan Popo. Sahabatnya yang kyai itu. Ia butuh waktu sendiri....

Artikel Terkait

A & E (57)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email