Sunday, May 13, 2018

A & E (55)

"Kau bilang aku bahagiamu,"

"Iya. Aku hanya butuh waktu,"

"Jika aku bahagiamu, bukankah mestinya kau mendekat ke aku saat kau sedih?"

"Iya,"

"Lalu kenapa justru kau meminta waktu untuk menjauh dariku? Jelaskan. Aku bingung denganmu, Lang,"

"Akupun bingung dengan diriku sendiri. Entah kenapa ini terjadi padaku sekarang. Mungkin memang ini azab bagiku."

"Atau ujian," Ola menyela.

"Atau ujian," Elang mengulangi dua kata itu dengan nada lebih pasrah.

"Please ya La. Aku tak ingin membawamu ke kubangan kesedihanku," lanjutnya.

"Tapi aku tak bisa melihatmu sedih seperti ini,"

"Hanya aku yang bisa menyelesaikannya. Aku tak ingin pikiranmu tersita oleh hal yang bukan urusanmu,"

"Jadi sekarang bukan urusanku, Lang?" ada keterkejutan di nada suara Ola.

"Bukan begitu, La," suara Elang sudah lelah.

"Aku menyayangimu. Justru itu aku tak ingin membuatmu bersedih bersamaku,"

"Aku yang memutuskan apa yang ku mau. Termasuk dengan siapa aku bersedih dan berbahagia,"

"Ya, La.. aku hanya..,"

Elang belum sempat menyelesaikan kalimatnya saat Ola berkata "sekalian saja kau anggap tak kenal aku,"

Elang menangkap kekesalan dan kemarahan terpendam di nada Ola. Ola mengambil tas dan jaketnya lalu berdiri.

"Sudah ya Lang. Ada saat aku tak kenal dirimu. Saat-saat seperti ini contohnya. Take your time. I will pretend that we dont know each other, biar ku tak perlu menunggumu membiarkanku menjadi bagian dari urusanmu," kata Ola.

"Iya La. Aku lelah. Sudah ya."

"Iya sudah." Ola beranjak dari cafe bernuansa coklat dan beraroma kopi dan roti hangat. "See you when I see you,"

"See you," jawab Elang lirih dan memandang Ola meninggalkannya. Atau ia telah meninggalkan hidupnya?


Artikel Terkait

A & E (55)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email