Sunday, May 13, 2018

A & E (54)

"No one trusts me," kata Elang di suatu senja di kereta api Amsterdam - Delft ke sahabatnya, Wisnu.

"Ada apa?"

"Aku sedang sedih. Tapi Ola tak percaya. Katanya aku tanpak baik-baik saja dan bahagia di acara kemarin."

"Dari mana dia tahu kau pulang reuni?"

"Dia lihat postingan anak-anak. Si Zelda posting banyak foto,"  jawabnya.

"Oooo," Wisnu mengangguk lalu membiarkan kesunyian di dalam gerbong itu makin nyata. Orang-orang yang pulang kerja sebagian membuka buku, sebagian membaca koran, sebagian menelepon, sebagian terlelap kelelahan.

Wisnu paham, akan susah bagi Ola untuk percaya bahwa Elang sedang sedih. Pose-pose bahagianya bertebaran di postingan Zelda. Zelda, kawannya yang orang Belanda asli mengajak beberapa kawan dekatnya untuk bertemu, merayakan diterimanya ia salah satu perusahaan yang beroperasi global. Ia akan segera pindah dari dinginnya Amsterdam, ke negara lebih hangat, Spanyol.

Tentu Elang ikut senang dengan peristiwa membahagiakan ini. Tak mungkin ia pasang muka jutek atau sedih. Ia tak ingin menjadi duri di pesta Zelda. Andai saja Ola memahaminya.

"Ola tak percaya aku sedih. Aku rentan."

"Karena kau curang. Kau tampakkan sedihmu ketika bersamanya. Kau tak bagi bahagiamu dengannya. Kau menjengkelkan jika bisa kunilai dari sudut pandang Ola. Sorry to say this, dude. I need to be honest with you," jawab Wisnu.

Sigh...Elang menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia ingin segera bisa menyelesaikan semua ini. Ia lelah bersama Ola, tapi tak bersamanyapun juga tak kalah melelahkan. Ola kini tak percaya padanya, gara-gara foto. Dan sahabatnyapun membela Ola. Unbelieveable!

"Kau tahu apa yang dibilang Ola tadi?" lanjut Elang.

"Tak tahu,"

"Dia bilang. Aku terlalu bagus berpura-pura. Ia tak ingin memberiku waktu. Ia bilang, "sekalian saja tak mengenalku," katanya sambil menirukan nada bicara Ola.

"Ia benci aku," lanjut Elang.

Wisnu mendengarkan. Ia tahu saat ini sahabatnya hanya butuh didengarkan. Elang tipe pria melankolis yang bisa melakukan hal-hal gila. Beberapa tahun lalu, Wisnu menghentikannya saat ia coba melompat dari balkon kamarnya saat diputus Dyah.

Wisnu menepuk pundak kanan Elang, dan berkata "be strong, bro!"

Artikel Terkait

A & E (54)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email