Monday, May 07, 2018

A & E (53)

Maaf ya La, something’s going on. Aku ingin cerita, tapi nanti ya, setelah semuanya beres. Again, it’s not about you.

Pesan pendek dari Elang diterima Ola di siang hari bolong. Tepat di hari setelah mereka baru tertawa bersama pagi harinya.

Oh, okay. jawab Ola.

Please pray for me, pinta Elang.

Okay. Ola menjawab dengan berbagai pikiran berkecamuk di benaknya.

Elang sedikit melankolis. Pendiam, tapi seolah menyimpan beribu kisah yang tak pada sembarang orang dia bagikan. Tak banyak orang yang tahu tentang keluarganya. Tak banyak orang yang tahu tentang dirinya. Misterius. Mungkin itu yang membuat Ola penasaran.

Mengenalnya, menjadi orang yang ia percayai adalah kemenangan tersendiri bagi Ola. Ia merasa istimewa, karena Elang memilihnya. 

Pernah suatu ketika ia bertanya.

“Kenapa kau suka menghabiskan waktu denganku?” tanya Ola waktu itu sambil mendengarkan Cinta Kan Membawamu Kembali-nya DEWA 19 yang dipetik Elang di gitarnya. 

Mata bulat Ola menatap Elang di depannya yang khusyu menirukan suara Ari Lasso. 

Elang berhenti bernyanyi dan menatap Ola.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku ingin tahu alasanmu,”

“Hm, kenapa kau seringkali memberi pertanyaan yang membuatku berpikir?”

“Mungkin karena aku terlahir untuk membuatmu berpikir,” jawab Ola santai. 

Elang memetik senar gitarnya, mengulang dari awal lagu…

“Ola, cinta itu misteri. Tapi aku tahu kenapa aku suka menghabiskan waktu denganmu. Karena kau tahan mendengarkan suaraku yang tak karuan ini,” canda Elang.

“Haha, ya ini kuberi 1 Euro untuk suaramu tadi,”

“Tambah lagi dong,”

“Ini 5 sen,” Ola bercanda sambil menyerahkan uang ke telapak tangan Elang.

Elang menggunakan kesempatan itu dan menggenggam tangan Ola. Ola terkejut dan menarik tangannya kembali.

“Eh, maaf La,”

“Iya, kau semestinya minta izin, anak muda,”

“Memang kalau aku minta bakal kau izinkan?”

“Hahaha, kepedean,” 

“Lang, we’re not holding hands, okay,” lanjut Ola.

“Iya, maaf. I am sorry. Dan itu kenapa?” 

“Because you have your own hands to hold, hahaha,” jawab Ola.

“Haha, baiklah. I am sorry. Aku tak akan ulangi lagi,”

“Thank you. I appreciate it. Jadi apa jawabannya, Lang?”

“Karena aku bisa jadi diriku sendiri. Bahkan membuat kesalahan seperti barusan, dan kau akan masih tetap memaafkanku, menerimaku apa adanya. With all my flaws. You don’t cast me away,”

Ola terhenyak oleh jawaban Elang. Ia sama sekali tak mengira Elang akan menjawab hal-hal seperti itu. Ia mungkin berpikir Elang hanyalah satu dari laki-laki yang sering menggodanya, yang ingin memiliki hatinya, yang memujinya, yang berpura-pura baik di depannya.

Denting dawai gitar menyelimuti keheningan.

“Cinta kan membawamu, kembali di sini, menuai rindu, membasuh perih….”


Ola menarik nafas panjang, membiarkan fragmen ingatan akan Elang berkeliaran di benaknya. Ia meletakkan handphonenya, dan memejamkan kedua matanya.

Semoga Allah menguatkanmu menghadapi apapun ini yang sedang kau hadapi, Lang. Terukir doa tulus di sanubarinya. 

Artikel Terkait

A & E (53)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email