Wednesday, May 02, 2018

A & E (49)

Kuat juga Elang menahan dirinya untuk tak menghubungi Ola, mengirimkan separagraf e-mailpun tidak, apalagi bercerita tentang harinya.

Sejak hari Ola memutuskan hubungan mereka, dan balasan e-mail Elang ia akan butuh waktu menyendiri; dunia terasa bergerak lambat. Benar kata Einstein, waktu itu relatif. Ia akan berlalu cepat jika dilalui dengan hal-hal yang disukai. Ia akan berjalan seperti siput jika diisi oleh hal-hal yang membosankan. Dan lagi-lagi, suka dan bosan inipun relatif. Semua serba relatif.

Ola berulang kali memeriksa Skypenya, Elang offline. Berulang kali ia memeriksa kotak pesannya, tak ada jumlah bertambah. Ia rindu. Ia tak mampu memungkiri, mungkin hijrahnya belum maksimal. Mungkin memang ia belum kuat untuk mengalahkan godaan dirinya sendiri.

Guru ngajinya pernah berkata saat membahas salah satu ayat di surat Asy-Syams. Manusia diciptakan dengan fujuur dan takwa. Apa tidak salah itu urutannya?, tanyanya saat itu.

Mengapa fujuur diwahyukan pertama sebelum takwa?, tanyanya.

Surga adalah balasan bagi orang-orang yang bersabar. Karena tiap hari, tiap saat adalah battle of will. Mana yang lebih kuat? Fujuur? Takwa? Malas? Rajin? Iman naik? Iman turun? Selalu terbolak balik di dalam qolbu.

Seperti ini rupanya. Di satu sisi Ola merasa tenang karena sudah tak lagi bersama Elang. Namun di satu sisi ia kehilangan orang yang berbagi banyak hal dengannya. Ia rindu obrolan mereka. Ia rindu celetukan-celetukan Elang yang spontan, menyebalkan, tapi ngangeni.

"Ah, menyebalkan. Aku ingin segera menyudahi kegelisahan ini," pikirnya.

Kata gurunya, ia mesti mengalihkan energi untuk melakukan hal lain. Fokus pada hal lain. Tapi bagaimana mungkin. Ada lintasan pikiran yang berkata "Elang lagi apa ya?", "Apa dia rindu aku?", "Haruskah aku menghubunginya terlebih dulu?" Dan semacamnya.

Begitulah hati manusia. Ola menarik nafas panjang. Sofa tempatnya duduk seolah memahami isi hatinya. Ia memandangnya lekat-lekat dan teringat saat Elang datang bermain gitar di sampingnya menyanyikan lagu "....kapan kau jadi milikku..." karya Sheila on 7.

Ia mencoba melawan gelisah dengan mengambil satu buku dari rak buku bersusun tiga di dekat televisi yang dari tadi tak dinyalakannya.

Daniel Pink.
Seth Godin.
Paulo Coelho.
Agatha Christie.

Semua tak ada yang menarik hatinya. Ia pun mengalihkan pandangannya ke DVD player dan memutuskan untuk menonton Lock, Stock, and Two Smoking Barrels.

---play---

Artikel Terkait

A & E (49)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email