Wednesday, May 02, 2018

A & E (48)

"La, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Maria yang sedang duduk di bangku taman belakang rumahnya. Halamannya tak besar, namun penuh dengan berbagai jenis tanaman. Maria suka gardening_. Ia menyemai benih tanaman kesukaannya, memindahkan dalam wadah yang lebih besar setelah benihnya mengeluarkan dua helai daun. Begitulah ia. Tangan dingin kalau kata orang dulu.

"Boleh, Mar." Siang itu Ola diundang makan siang di rumah Maria. Menu sederhana namun enak dinikmati berdua. Satu bowl salad dengan kucuran madu, jeruk nipis, dan wijen. Sandwich roti gandum yang di atasnya disajikan ikan salmon asap yang ditaburi garam merica, serta dua cangkir kopi decaffeine yang diseduh memakai kertas filter.

"Berapa kali kau memeriksa inboxmu dalam sehari?"

"Hm, beberapa kali."

"Berapa kali kau mengharap datangnya e-mail Elang?"

"Sesering aku memeriksa inboxku."

"OK," kata Maria bijak.

"Apa yang menghalangimu sekedar menemuinya dan bicara baik-baik? Tidak semuanya bisa selesai dengan tulisan melalui teknologi. Ada hal-hal yang mesti kau lakukan dengan tatap muka. Kopi darat.

"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Sudah jelas dia menikah, anaknya dua."

"Kau yakin tak bisa sekedar berteman dengannya?"

"Mana bisa?"

"Kenapa tak bisa?"

"Ah kau ini. Seperti yang tak pernah jatuh cinta saja,"

"Kemarin, setelah bertemu dia setelah sekian lama, tiba-tiba seolah aku tak pernah berpisah. Seolah kami hanya LDR saja. Ingatan-ingatan manis tentangnya muncul dan seolah aku tersedot mesin waktu dan kembali saat kami masih bersama. Ini absurd!"

"Oh wow. Berat. Berat. Kisah kalian mungkin terlalu menyenangkan. Dan dengan dirimu yang belum ada penggantinya, mungkin lebih berat," Maria menganggukkan kepalanya beberapa kali.

"Ya begitulah,"

"Lalu kenapa kau masih memeriksa inboxmu? Apa yang kau harapkan?"

"Aku berharap dia menulis sesuatu untukku lagi."

"Oh Ola... malangnya kau,"

"Ah, dia hanya secuil kisah dari hidupku. Masih ada kau yang baik dan selalu menemani. Kita berhenti membicarakannya, yuk?"

Maria menyunggingkan senyum manis.

"Iya, ayuk,"

Ritual makan siang yang menyenangkan ini, sekaligus menenangkan, hanya bisa didapat Ola dengan sahabatnya Maria. Dengan kepiawiannya mengolah bahan mentah, Ola seakan mempunyai chef pribadi. Bukannya apa, ia sedang menghindari cafe dan tempat keramaian lainnya. Ia ingin memperkecil kemungkinannya bertemu Elang di Bandung.

Benar mungkin kata Pat Kai "cinta, deritanya tiada akhir."

Artikel Terkait

A & E (48)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email