Monday, April 30, 2018

A & E (45)

Suasana Paris di musim semi memang tiada dua. Daya pikat yang menjadikan menjadikan Paris sebagai destinasi. Ia adalah simbol destinasi romantis dan kemapananan. Ia adalah simbol cinta dan keindahan. Paris, simbol kedigdayaan dan kemewahan.

Ola berjalan kaki di menara Eiffel. Mendongak ke atas, ingin rasanya suatu hari bisa dinner bersama kekasih hatinya. Walaupun takut ketinggian, mungkin ketika dilawan dengan keinginan dan kebahagiaan, ketakutan itu akan sirna perlahan.

Dinner di Eiffel Tower. Catatnya dalam batinnya.

Ola seperti mempunyai bucket list tentang apa-apa yang ingin dia lakukan bersama pasangan hidupnya nanti. Bukan, bukan dengan pacar. Ia sudah muak akan kata itu. Merangkai kenangan dengan pacar adalah hal terburuk yang dapat dilakukan oleh orang yang saling mencintai. Efeknya bisa menyeramkan. Jika tak mampu dikendalikan setelah orang yang berpacaran tadi memutuskan hubungan. Ola bergidik hanya mengingat kisah kawannya yang tak keluar kamarnya selama tiga bulan karena diputuskan kekasihnya. Alasannya klasik "semua tempat mengingatkanku akannya." Bahkan ia membuang hampir seperempat isi kamar, rupa-rupanya si mantan yang pernah membelikannya hadiah. Cinta ada harganya.

Kali pertama Ola menginjakkan kaki dan menyusuri tempat-tempat yang biasa dia lihat di postcard. Ia memutuskan untuk berlibur sendiri ke Paris agar tenang otak dan hatinya.

Ia berencana untuk melihat Monalisa asli. Ke istana kesukaannya sedari anak-anak, Versailles. Dan sekedar duduk ditemani secangkir kopi dan croissant hangat dengan butter sembari memperhatikan lalu lalang orang.

Ia memutuskan untuk menyudahi hubungannya dengan Elang. Ia sudah lelah beragumentasi dengan pria kesayangannya itu. Ia akan memberikan kesempatan pada takdir untuk menganyam benang-benang jodohnya.

Kata-kata. Lebih tajam efeknya dari sebilah pisau. Dan karena kata-kata itulah Ola memutuskan hubungannya. Bukan tak cinta. Bukan tak rindu. Ia hanya berpikir jika kata-kata itu mampu diucapkan Elang sebelum mereka menikah, apatah lagi jika mereka menikah. Ola ingin lelaki sabar, penyayang, yang tak mudah mengeluarkan kata-kata yang menyakitkannya.

Ia terus berjalan menyusuri jembatan dan melihat deretan pelukis jalanan yang sedang asyik melukis obyek yang duduk diam di hadapannya. Ia melihat beberapa orang menjajakan benang. Ia mendekat dan memperhatikan dengan seksama.

Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, orang itu bicara dengan aksen Perancis yang kental.
"You want e? Bracelet made here?"

"How much?" jawab Ola.

"Three euros," jawabnya.

"OK. Yes. I want," Ola menjawab dan memilih tiga kombinasi warna benang. Dengan cekatan pedagang itu memilin dan menganyam benang langsung dikaitkan ke pergelangan tangan Ola. Putih, merah, biru; warna-warna yang dipilihnya. Tak lama kemudian, sekitar lima menit kemudian, gelang anyam instan itu jadi.

Ola puas melihat hasilnya. Di tangan kirinya kini ada kawan baru. Kawan baru yang akan mengingatkannya akan hari ini saat dia menunjukkan bukti cintanya pada dirinya sendiri. Melebihi cintanya pada Elang.

Artikel Terkait

A & E (45)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email