Saturday, April 28, 2018

A & E (40)

"Happy belated birthday, La,"

"Thank you very much, Elang Mahardika. Ini apa?" Ola tersenyum sopan dan pandangannya tertuju pada kotak berbungkus biru, berpita putih. She loves present, terutama dari orang yang disayanginya.

"Bukalah."

Ola perlahan membuka ikatan pitanya. Kertas kado yang berwarna biru itu menggoda dengan kilauannya yang terimpa cahaya yang masuk dari jendela kaca. Musim dingin sudah hampir selesai. Bulan Februari. Setelah Desember dan Januari penuh dengan salju. Saat ini salju tak lagi kerap datang. Dingin menyapa, namun lebih ramah. Suhu minus sudah biasa. Jaket tebal, baju rangkap, sepatu boots khusus untuk menjaga kaki selalu hangat sudah tak terasa berat lagi. Memang betul, pembiasaan adalah kunci adaptasi.

"Kubuka ya..." mata Ola berbinar bagai anak kucing yang bersemangat.

"Iya, buka La," Elang mengulum senyum bahagia melihat Olanya berbinar.

"Wow.. lang, ya ampun. Kau tak perlu belikan aku kado ini. Ini berlebihan. Kau...," Ola terperanjat melihat isinya.

"Aku speechless, Lang," Ola meneruskan.

"Iya, memang itu tujuannya. Membuat Olaku speechless di hari ulang tahunnya yang sudah terlewat tujuh hari. Maafkan aku ya," Elang menunjukkan pandangan sedih dan menyesal.

"Iya. Dimaafkan," terasa hangat di dada Ola.

"Aku dimaafkan karena kau suka hadiah yang kuberikan?" Elang mulai bercanda.

"Kau dimaafkan karena aku sudah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf, Lang," Ola tersenyum bijak.

Mereka berdua menyungging senyum. Cafe bagel yang dinyalakan penghangatnya itu seolah menjadi makin indah.

Kado yang Elang berikan bukanlah kado istimewa jika dilihat dari harganya. Ia adalah kado perhatian, karena ia mengenal Ola. Sepasang sepatu Onitsuka Tiger Mexico 66, berwarna putih tulang, bergaris ungu, bertali. Onitsuka Tiger pertama Ola.

"Terima kasih ya Lang. Tak kusangka kau memberiku ini. Kukira kau akan berikan aku cincin emas, atau iPod atau tiket konser Michael Buble di London." Ola menyeletuk.

"Hahaha. Ya nanti. Jika ada rezekinya lagi. Mudah-mudahan," jawab Elang.

"Ola, ingatlah satu hal. Aku selalu menemani di setiap langkahmu. Kau tak pernah sendirian." ujar Elang filosofis menjelaskan pilihan hadiahnya.

"Aku tak membelikan kau cincin," lanjutnya. "Karena aku tahu kau tak suka perhiasan. Aku tak belikan kau iPod karena kau tak suka menempelkan earphone di telingamu. Kau lebih suka mendengarkan suara alam. Akupun tak membelikanmu tiket konser Michael Buble, karena artinya kita mesti pergi berdua, dan kau tahu, itu berbahaya. Nanti saja ketika kita sudah bebas pergi ke mana-mana. Kau yang sabar ya," Elang tertawa riang.

"Hahaha. Iya."

"Selamat ulang tahun, Ola," kata Elang sekali lagi sambil memandang lekat perempuan di hadapannya.






Artikel Terkait

A & E (40)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email