Friday, April 27, 2018

A & E (39)

Dear Elang,

Kau bertanya bagaimana menurutku tentang hal-hal yang akan kau lakukan. Begini menurutku:

1. We must take care of ourself, in order to be able to take care of others.
Orang tak mungkin bisa membantu orang lain jika ia belum bisa membantu dirinya sendiri. Seperti yang sering diperagakan oleh para pramugari di pesawat sebelum pesawat tinggal landas, jika terjadi penurunan tekanan kabin, maka pakailah masker yang keluar secara otomatis dari atas tempat duduk. Pasang untuk diri sendiri, baru pasang untuk anak atau orang lain.

You must be able to swim in order to save a drowning man.

2. Kembali pada internal, external.
Yang kau harapkan, butuhkan, pujian dari orang lain, misalnya. Atau pengakuan dari orang lain. Tanyakan pada diri:
a. Apa yang kau sembah? Apa kau menyembah pujian? Kau butuh penghargaan orang lain, pengakuan orang lain, untuk apa? Kenapa? Apa kurang bersyukur? Apa karena kau tak mengenal dirimu sendiri? Bahwa kau sudah istimewa tanpa perlu pujian orang lain. Kau sudah sempurna, ciptaan Allah yang unik dan tiada dua.

Galilah jawaban dari dirimu sendiri. Merenunglah. Cukuplah pengakuan dari Allah sajalah yang kita kejar. Bukan pengakuan dari orang lain. Betapa melelahkan haus pengakuan. Betapa melelahkan haus penghargaan. Bukan aku yang bilang, melainkan ust kondang, Aa Gym.

Beliau sudah mengalami ketenaran yang luar biasa, dan ketika beliau memutuskan untuk berpoligami, der! Habis sudah semuanya. Tidak ada lagi stasiun TV yang ingin beliau ceramah di TV mereka. Tak ada lagi rombongan ibu-ibu yang pakai bus ke Darut Tauhid dan antri foto bersama. Tak ada lagi pujian, sanjungan yang melenakan. Hanya tersisa cacian. Bisnis beliau berguguran, karena tidak terbangun dari pondasi sistem yang kuat. Yaitu pondasi tauhid.

Kata Aa Gym, yang lebih berbahaya adalah cobaan pujian, sanjungan. Ujian cacian lebih mudah dihadapi. Ujian makian lebih mudah dihadapi. Apalagi jika apa yang kita lakukan sebenarnya tidak ada salahnya.

3. Berhenti mengkotak-kotakkan diri.
"Aku pendiam, aku sombong, aku ramah, dll."
Semua kontekstual. Kau adalah semuanya. Belajarlah dari Po saat dia belajar jati dirinya. Dia ya murid, dia ya anak seekor angsa, juga anak seekor panda, juga kawan-kawan dari Furious Five, juga dragon warriror. Dia adalah semuanya. Dengan kepribadiannya yang polos, cerdas, dan apa adanya. Dia menerima bentuk tubuhnya, menerima kemampuan kung funya, dia pantang menyerah walau ada saat-saat di mana dia ingin berhenti.

Semua memang butuh waktu, tapi bukankah yang tetap adalah perubahan?

Manusia adalah makhluk sempurna, karena dia punya body, mind, and soul. Ketiga elemen ini semuanya membutuhkan makanan, asupan. Jika kau hanya berpihak pada satu hal, maka akan terjadi ketidakseimbangan. Apa yang terjadi? Ada orang yang tampak sempurna, namun memutuskan bunuh diri. Perlu kusebut? Ada Marlyn Monroe, ada Kurt Cobain. Tapi di sisi lain, ada orang yang terlahir tak berkaki tak bertangan, Nick Fujicik; yang justru menginspirasi banyak orang. Think about it.

Body butuh asupan kesehatan yang baik. Makanan yang baik, olahraga yang baik, istirahat yang baik.
Mind butuh asupan bacaan yang baik, pikiran yang baik, positif.
Soul butuh asupan Al Qur'an, bertemu orang-orang yang sejiwa yang mampu mengingatkan saat iman turun.

Pikirkan.
Lalu lakukan apa yang menurutmu selama ini kurang asupan.


PS: Aku tak pernah memintamu untuk mengaji, karena semua yang tidak berasal dari dalam diri, biasanya bukan yang sebenar-benarnya. Carilah guru. Kenalilah kebutuhan-kebutuhan body, mind, and soulmu.



Ola.

Artikel Terkait

A & E (39)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email