Thursday, April 26, 2018

A & E (38)



"Ini yang membuat dirimu seolah terpenjara olehnya. Kau ingin lepas darinya?" tanya Maria.

"Ya, aku mau. Dia telah menghancurkan ketenangan hati dan ketenangan hidupku. Dia seharusnya tidak perlu menghubungiku lagi. Dia seharusnya tak usah bertemu denganku lagi. Seharusnya memang tak ada lagi silaturahim lagi di antara kami. Ini hal yang celaka." Ola berapi-api mengeluarkan uneg-unegnya.

Maria tersenyum.

"Oh, sahabatku. Kau tak bernasib malang. Justru ini ujian. Apa benar kau sudah menerima takdir? Apa benar kau sudah merelakan kenyataan?"

"Aku kesal padanya! Untuk apa dia datang lagi? Dia mestinya hilang ditelan bumi,"

"Mati?"

"Ya setidaknya begitu."

"Lalu kenapa kau belum menemukan penggantinya?"

"Please Mar. Aku memilih sendiri bukan berarti aku masih menginginkannya."

"Tapi kau masih menyukainya?"

"Ya. Tapi itu rasa yang berbeda. Menyukai ya menyukai. Aku tak lagi ingin memiliki,"

"OK. Jadi apa yang kau inginkan sekarang?"

"Mengenyahkannya dari pikiranku,"

"Apa dia menghantuimu?"

"Ya. Sangat! Saat dia bilang dia merinduiku. Dia gila! Dia benar-benar gila! Apa tak sadar dia sudah punya keluarga? Untuk apa dia tanya yang sudah berlalu?"

"I cant answer for him, La"

"Ya aku tahu dia hanya bertanya. Tapi itu bukan sekedar pertanyaan. Kata yang ia pilih, unfinished business. Apa maksudnya?"

"Again... i am not his lawyer,"

"Aku bosan dengan kepengecutannya. Jika ia benar menginginkanku dulu, kenapa ia tak mencariku lagi? Memperjuangkan aku lagi? Kenapa setelah dia melewatkanku, ia menyesali, dan membuka luka lama?"

"Kau yang meninggalkannya, La"

"Itu karena ia menyakitiku. Jika saja ia memintaku menikah dengannya sebelum ia menyakitiku, aku pasti berkata ya,"

"Tapi kenyataannya tidak"

"Tidak. Kenyataannya tidak,"

"Lalu kau ingin menyalahkan takdir?"

"Aku ingin berdamai dengan dia," suara Ola melemah.

"Denganmu sendiri,"

"Eventually,"

"Kau rindu dia. Kau mesti menemui dia lagi dengan kepala dingin. Bicaralah baik-baik,"

"Aku tak bisa. Dia sudah punya Atika,"

"Tempatkanlah dirimu sebagai kawannya."

"Ada rasa cemburu menyelinap,"

"Mungkin kau perlu ilmu baru untuk menghadapi ini. Kau mesti belajar sesuatu,"

"Maksudmu?"

"Ilmu pengenalan diri," jawab Maria yakin dan pasti.

"Inner peace? Kayak Po?"

"Yap. Inner peace. Layaknya the dragon warrior,"

"Oh please...."

"Hahahaha. Aku tak bercanda. Yuk kita nonton lagi Po dan Shifu. Mungkin kau akan temukan jawabanmu." ajak Maria riang...


Artikel Terkait

A & E (38)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email