Thursday, April 26, 2018

A & E (37)

"Kau ingat Hukum Kekekalan Energi, La?"
"Walau aku anak IPS, ya aku masih ingat. Lalu?"
"Apa bunyinya?"
"Bahwa energi tidak dapat dimusnahkan dan tidak dapat diciptakan. Ia hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain," jawab Ola di pagi itu.

Kopi hangat yang aromanya menyebar, seolah menjadi aromaterapi yang menemani perbincangan mereka.

"Pinter!," kata Elang.

"Cerdas mungkin lebih tepat. Aku tak terlalu pintar. Aku tak sanggup menghafal rumus-rumus seperti kau menghafalnya,"

"Haha. Baiklah. Cerdas!" Elang mengulangi pujiannya.

"Nah, ini lebih baik. Karena ada 8 jenis kecerdasan. Dan menjadi pintar akademik hanyalah satu di antaranya. Menilai katak dalam ujian terbang akan membuatnya tampak bodoh,"

"Baiklah Einstein,"

"Haha. Jadi mengapa kau membuka obrolan dengan hukum kekekalan energi?"

"Aku ingin menjelaskan padamu tentang tipisnya beda antara benci dan rindu. Dan energi yang kupunya untuk menyayangimu ini, tak akan hilang. Ia mungkin berganti menjadi benci, atau sekedar rindu. Atau kualihkan pada kegiatan yang lain yang sama menciptakan adrenalin dan endorphin di saat yang bersamaan. Tapi takkan hilang,"

"Dan maksudmu adalah?"

"Aku tak bermaksud apapun. Just saying," kata Elang ringan.

"Gombalan yang buruk di pagi ini, Lang" Ola tertawa.

"Aku memang tak bermaksud menggombal."

"Ya apapun maksudmu lah. Suka-suka kau saja. Sudah ya. Aku ada kelas pagi hari ini. Mr. Broere. Finance. Uughhhh," Ola bergidik.

"Hahaha. Have fun!"

"I will. Bye!"

"Bye," Elang menekan tombol Off di Skypenya. 

Artikel Terkait

A & E (37)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email