Wednesday, April 25, 2018

A & E (36)

"Bagaimana kau tahu kau masih menyukai Elang, La?" tanya Maria sambil mengunyah martabak asin hangat dengan potongan cabe rawit.

"Ya, aku tahu saat aku penat, aku ingin berbincang dengannya. Saat aku lelah, aku ingin bercerita padanya. Saat aku bahagia, aku ingin berada di sampingnya, dan dia orang pertama yang ingin kuberi tahu. Saat aku sedih, aku hanya cukup dihiburnya dan tak lagi aku sedih," jawab Ola panjang sambil memainkan jarinya di pinggir cangkir putih yang tadinya berisi teh manis panas.

"Oh, begitu rupanya ciri-cirinya," Maria mengangguk menunjukkan ekspresi paham.

"Ya, itu menurutku. Bagaimana menurutmu?"

"Ya mungkin sama. Kau tahu kau lebih bisa mendefinisikan hal-hal seperti ini dibandingkan aku. Haha"

"Jadi, maksudmu, setelah kau meninggalkannya. Setelah kau bahkan tahu dia sudah menikah, kau masih menyukainya? Kau tak salah, La?"

"Entahlah. Mungkin aku masih menyukainya. Atau mungkin aku hanya tak rela kehilangan fans. Kau tahu,"

"Hahaha, dasar selebritis,"

"Haha. Tapi kenapa kau dulu meninggalkannya, La?"

"Bad timing, itu saja,"

"Please elaborate,"

"Ya, kau tahu. Saat dia ingin menikahiku, aku tak ingin. Saat aku ingin menikah dengannya, ia tak bisa, tak mau. Ya sudah. Seperti memang sudah tertakdir begitu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menikah dengan orang selainku, pasti orang itu lebih istimewa dariku hingga bisa menggantikan diriku di hatinya, di hidupnya,"

"Di hatinya, ya. Di hidupnya? Belum tentu. Kau tahu tiap orang unik. Mereka hidup untuk tujuan. Dan pasti Allah punya maksud untuk ini semua,"

"Kau selalu bijaksana. Darimana kau dapat resep itu?"

"Resep martabak?"

"Resep kebijaksanaan,"

"Hahaha. Bergumul dengan resep dan adonan membuatku lebih bijak. Manusia hanya bisa mengumpulkan bahan-bahan. Mungkin mengolahnya menjadi sesuatu yang baru, yang enak, yang bisa dinikmati. Tapi itu butuh skill. Bayangkan, dengan bahan yang sama, bisa jadi hal yang berbeda di tangan chef Michelin, dan chef biasa,"

"Hm, lalu memasak menimbulkan kebijaksanaan?"

"Hahaha mungkin saja. Aku tak tahu. Berhentilah menanyakan hal-hal yang seperti ini. Aku bukan Elang, La," Maria terkekeh.

"Tuh kan.. kau membandingkan dirimu dengan dirinya. Dia ya dia, kau ya kau. Tak bisalah kau digantikan dia, atau sebaliknya,"

"Begitu pula Elang terhadapmu, La. Tak ada yang bisa menggantikanmu di hidupnya."

"Tapi dia memilih menikah dengan yang lain. Tanpa memberitahuku,"

"Mungkin dia menganggap kau sudah tak lagi menginginkannya. Ia pernah memohon padamu untuk menikahinya, kan? Aku ingat kau ceritakan tentang itu."

"Iya."

"Lalu kau menolaknya?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena dia telah menyakiti hatiku. Dan aku tak suka."

"Dan yet, kamu sekarang masih belum menemukan pasangan hidup,"

"Hidup bukan perlombaan. Dia menikah dulu bukan berarti dia menang terhadapku,"

"Ya, dia tak menang darimu. Dia menang dari keinginannya memilikimu. Dia menang dari realita."

"Kau membelanya?"

"Aku mencoba ada di posisinya."

"Lalu mengapa dia bilang dia masih merinduiku?"

"Ya karena kau tak tergantikan."

"Bahkan oleh istrinya?"

"Bahkan oleh istrinya," Maria mengulangi perkataan Ola.

Ola terdiam. Maria terdiam. Martabak asin itu juga diam. Hanya terdengar rintik hujan yang mengenai atap seng dan dedaunan.


Artikel Terkait

A & E (36)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email