Wednesday, April 25, 2018

A & E (35)

"All I need was possible," ujar Elang setelah meneguk kopinya.

"We were possible," jawab Ola.

"We were not," pungkas Elang.

"We were," Ola memberi tekanan pada kalimatnya.

"But we didn't take that chance," lanjutnya.

"Dan setelah semua berlalu, kita di sini, menyesali garis waktu yang tak lagi bertemu." Ola menundukkan kepalanya. Ia menarik nafas panjang hingga bergetarlah bahunya.

Ola tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya. Elang menatap perempuan di hadapannya. Betapa istimewanya dia, tapi tak mungkin lagi dimilikinya.

"La, kau masih ingin tahu tentang bagaimana aku bertemu dengannya?" Elang bertanya setelah keheningan menemani mereka.

"Nanti....."

Kemudian keheningan.

"Kurasa aku ada janji sebentar lagi," kata Ola sambil melihat jam tangan di pergelangan kirinya. Seolah-olah ia terburu-buru. Ia tahu ia tak sanggup lagi bertatap muka dengan Elang untuk saat ini. Terlalu banyak untuknya. Terlalu berat untuk pertemuan pertama.

"Baiklah. Kita bertemu lagi?"

"Entahlah. I'll let you know,"

"Why, Lang? Kenapa kau ingin bertemu denganku?"

"Aku ingin menyelesaikan unfinished business kita, La. Tidakkah kau paham?"

"Kita tak lagi punya unfinished business, Lang. We're done. Kita finish. Selesai. Finito,"

"Ada pertanyaan yang belum kau jawab. Dan pertanyaan itu menghantuiku selama ini,"

"And yet, you decided to marry her, instead of looking for me and the answers," Ola menyanggah.

"La, please. Aku berhak melanjutkan hidupku tanpamu. Seperti kau berhak memutuskan hidupmu lagi tanpaku,"

"Iya, kau benar. Maafkan aku,"

"Kita simpan untuk kali lain ya," Elang tersenyum hangat. Entah mengapa ia masih saja menyayangi makhluk di depannya ini.

"Iya. Sampai ketemu, Lang," Ola mulai beranjak dari tempat duduknya.

"La, tunggu," Elang mencoba mencegah Ola. Tangan Ola ditarik lembut. Ola terkejut. Dan sejurus menarik tangannya.

"Lang, ada apa?" tanyanya.

"I miss you," Elang berbisik lirih.

"You're not!" Ola marah dan meninggalkannya sendirian.

Meja bundar di kafe itu menjadi saksi kebingungan hati Elang, ia tak tahu mengapa ia mesti menyatakan rasa rindunya. Menjadi saksi atas kebingungan hati Ola, yang tak tahu mengapa ia tak bisa bersikap biasa saja di hadapan Elang. Sekedar memperlakukannya seperti teman lama.

Old habit die hard. Mungkin begitu pula dengan rindu.

Ola meninggalkan kafe segera. Tak ingin lagi menginjakkan kakinya di sana, ia berjanji dalam hatinya. Tak ingin lagi bertemu Elang.

Artikel Terkait

A & E (35)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email