Sunday, April 22, 2018

A & E (31)

Ola meneguk kopinya. Elang memandangi perempuan di depannya dengan seksama. Seolah itu kali pertama mereka berjumpa.

"ting," Ola meletakkan cangkirnya. Suara cangkir beradu dengan saucer.

"Jadi, kau sudah berkeluarga?" tanya Ola.

"Iya, surprise surprise," jawab Elang tersenyum.

"Iya. Asli surprise! Kau pandai membuat kejutan. Jadi, dia adalah?"

"Hm, dia adalah, kawanku dulunya. Sekarang istriku," Elang mencoba bercanda.

"Haha. Ya ya ya. Jadi sekarang dia bukan kawanmu lagi?"

"Hahaha, kau selalu bisa memutar kata. Ya, dia kawanku DAN istriku," Elang memberi penekanan pada kata "dan" yang diucapkannya. Takut kalau-kalau Ola bisa menemukan celah dari kalimatnya.

"OK. I am listening. Terus?"

"Ya, terus begitulah. Kami sudah punya dua anak perempuan. Cantik-cantik."

"Oh, that's cute. Siapa namanya?"

"Namanya Alice dan Inka"

"Oh wow, eropa sekali namanya"

"Hahaha. Ya, selera kami"

"Nama panjangnya?" Ola meneruskan pertanyaannya.

"Alicia Putri Kahyangan, dan Inka Putri Salsabila"

"We o we, nama yang keren," Ola mengeja kata wow, menunjukkan betapa banyak kejutan yang ia dapat sore itu.

Hening sejenak. Ola menarik nafas panjang, Elang masih menatapnya lekat-lekat.

"Lalu, apa gerangan yang membuatmu ingin menemuiku, after all these years?"

"I want to see you. As a friend," jawaban Elang datar, tanpa kandungan emosi yang bisa ditangkap Ola.

"Hmmm, well, here we are!" Ola merentangkan kedua tangannya seolah menyambut pertemanan mereka yang telah putus sekian lama.

"Hahaha, yes, here we are. At last," dua kata terakhir diucapkannya perlahan. Ola tak tahu berapa lama Elang menyiapkan dirinya untuk pertemuan ini. Ola tak tahu betapa sering Elang ke Bandung sebelum ini, tanpa pernah memberi tahu Ola. Olapun tak tahu betapa pertemuan ini benar-benar Elang rindukan.

"Jadi, mau pesan apa?" Elang segera mengalihkan pembicaraan.

"Hm, aku pesan colenak saja. Kau?"

"I am fine."

"Kau diet?"

"Haha, ya begitulah" Elang tertawa riang. Hanya Ola yang berani menanyakan hal-hal seperti ini padanya.

Ingatan Elang kembali ke beberapa tahun silam, saat dia putuskan untuk ke Haarlem saat badai ujian melanda. Hanya untuk mendengarkan tawa dan melihat Ola di hadapannya. Bukan lewat layar.


Artikel Terkait

A & E (31)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email