Saturday, April 21, 2018

A & E (29)

Bus Scania yang kursinya kuning biru cerah itu hendak melaju. Udara dingin menyelimuti Amsterdam pagi itu. Hari ini jadwal Ola untuk bertemu kawan-kawannya. Mereka akan menghabiskan waktu menonton film di Pathe. Jalanan nieuwmarkt Amsterdam sudah menanti mereka. Toko-toko berjajar di kiri kanan, menyapa ramah mereka untuk sekedar window shopping atau masuk dan berbelanja.

Ola berpikir dalam diamnya.

"Kau mau menikah dengannya? Dia masih mahasiswa." tanya Maria tempo hari.

"Ya, sepertinya iya. Memangnya ada apa dengan menikah saat kuliah? Aku tak melihat di mana letak kesalahannya?"

"Aku tak berkata bahwa itu salah. Lebih pada, apa kau siap? Kau tak takut kuliahmu terganggu?"

Ola menarik nafas panjang. Pandangannya dialihkan ke jendela kiri bus. Dari matanya tampak ia sedang gelisah. Siap atau tidak siap? Apakah kita mesti menikah? Mengapa menikah? Untuk apa menikah?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bagai pop-up browser yang tak di block.

Menikah bukan hanya menyatukan dua hati. Menikah menyatukan dua keluarga. Ini sebuah langkah besar. Sekali jalan, pantang berpulang.

Bus melaju perlahan tapi pasti menuju stasiun Haarlem. Yang nanti dia akan naiki kereta sneltrain Haarlem-Amsterdam. Masih ada dua jam sebelum waktu janjiannya di Pathe.

Artikel Terkait

A & E (29)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email