Wednesday, April 18, 2018

A & E (25)

"Apa yang kau suka dari Elang?" Maria menanyakan hal yang tak pernah sama sekali terlintas di pikiran Ola. Wangi adonan banana pancake memenuhi dapur bernuansa hitam putih milik Maria.

"Hmmm, good question. Aku tak pernah memikirkannya," Ola yang duduk di kursi meja makan segi empat warna coklat, menjawab santai sembari mengunyah kacang pedas yang dibelinya tadi siang.

"Ya, kau harus tahu triggernya. Sehingga kau bisa menghilangkan bayang-barangnya. Kau kan yang mengambil keputusan untuk break?"

"Iya, tapi apa perlu sampai aku memikirkannya? Aku kan sudah putus. Pe U Te U eS," katanya mengeja.

"Ya kan kalian sedang break. Sekedar berpikir entah untuk meneruskan atau memutuskan untuk berpisah. Ya kan?"

"Ya, kau benar,"

Aroma semerbak banana pancake makin menjadi-jadi. Maria mengangkat beberapa lembar pancake dan mengolesinya dengan Nutella, menyiapkan di piring putih bersih.

"Kukira aku menyukainya karena kami bisa berbincang-bincang tentang apapun. Literally apapun.  Mulai cuaca terkini hingga buku terbaru. Tak banyak orang yang bisa begitu,"

"Pria, maksudmu," ucap Maria.

"Iya. Kau tahu biasanya mereka tak ingin menjadi temanku. Mereka selalu punya modus. Elang tidak tampak seperti itu. Dia pintar. Dan harum. Haha," Ola memejamkan mata seolah ia bisa mencium aroma wangi parfum White Musk kesukaan Elang.

"Hahaha. Begitu ya?" Maria tertawa melihat tingkah sahabatnya. Ia tak melihat ketidaksukaan Ola pada Elang. Ola tampak jelas masih menyimpan rasa sayang ke Elang. Tapi mengapa Ola memutuskan hubungan mereka?

"Satu lagi, dia itu adiktif. Satu jam berbincang dengannya seolah hanya satu menit. Dan aku pecandunya," Ola membuka matanya perlahan lalu memejamkannya lagi seolah melihat Elang di pelupuk matanya.

"Kau sudah gila. Haha,"

"Haha. Mungkin"

"Lalu kenapa kau putuskan dia?" Maria melahap banana pancake yang berlumuran coklat.

"Hmmm, karena aku merasa aku tak lagi menjadi diriku sendiri. Dia menguasaiku. Dia mengendalikan pikiranku. Aku tak bisa hidup tanpanya. Dan itu sakit!" ujar Ola.

"Sakit atau menyakitkan?"

"Sakit. Aku seperti orang sakit. Sakaw bila tak ada dia. Sakaw bila jauh darinya. I am not the old me. And I hate it." Tatapan Ola menerawang jauh.

"Ooh....baiklah, ini minum dulu tehnya," Maria menyodorkan cangkir putih berisi teh tawar yang diseduh beberapa menit lalu. Dia terdiam. Sahabatnya di hadapannya ini sedang melawan dirinya sendiri.

Artikel Terkait

A & E (25)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email