Wednesday, April 11, 2018

A & E (22)

"Po, sebenarnya aku ingin bersamanya. Menikahinya. Tapi itu tanggung jawab yang besar. Kau tahu, aku mesti menafkahi dirinya. Sedangkan pekerjaanku belum tetap. Kau tahu kan?"

"Koen ngenteni opo?"

"Ya nunggu mapan"

"Umur piro? Koen kate njaluk Ola ngenteni?"

Popo, kawan bijak Elang. Asli Malang. Tampang urakan, tapi berhati setia kawan. Elang pernah menghabiskan masa sekolah di Surabaya, Jawa Timur. Perkenalannya dengan Popo saat bertemu di pesantren Ramadhan saat SMA. Setelah itu, mereka bersahabat karib. 

"Lanang iku enak. Gak perlu wedi kate rabi umur piro ae pasti onok wedok sing gelem. Lha nek arek wedok gak iso. Koen gak oleh egois, Lang." Nasehatnya sambil menyeruput kopi hitam pekat yang sudah hangat di cangkir putih. Asap rokok mengepul, sepertinya hanya dibakarnya, tanpa dihisap.

Elang hanya terdiam. Berpikir. Benarkah dia egois? Atau sebaiknya memang ia lepaskan Ola? Elang gundah.

"Koen jek suwe nang Indonesia?"

"Gak, Po. Minggu depan aku muleh Londo"

"Oh. Yo wes. Pikirno sek ae. Wes. Gak usah dipikir. Mangan ae."

Kabut dingin kota Malang tak mengecilkan pikiran tentang Ola yang berlarian di kepala Elang. Jagung bakar dan kopi hitam menemani kegundahan Elang. Sesekali Popo menghisap rokoknya, meniupkan asapnya ke udara malam.


Artikel Terkait

A & E (22)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email