Sunday, April 08, 2018

A & E (19)

"Kalau jadi istri, tolong jangan berharap aku akan memasak untukmu tiap hari. Jangan berharap juga aku akan bersedia diam di rumah tak berkegiatan.  Jangan harap aku berhenti bekerja.  Jangan harap aku akan berubah demi kau," ucap Ola sambil meneguk air mineral di botol minum kuning yang selalu menemaninya ke mana-mana.

"Kenapa?" Elang heran.

"Ya karena aku ya aku. Aku tak ingin kau bandingkan dengan wanita yang lain. Yang selalu di rumah menunggu suaminya pulang."

"Wanita lain siapa?"

"Yang seperti Dea"

"Hah? Dea? Sama sekali tak terpikir olehku membandingkan dirimu dengan Dea atau siapapun, La"

"Terus nanti kalau aku tak sempat masak buatmu, bagaimana?"

"Ya kita tinggal beli makan," jawab Elang ringan.

"Kalau aku pulang lebih larut?"

"Hm, mungkin bisa lebih dikondisikan agar tak tiap hati, kan?"

"Kalau aku ternyata tak bisa punya anak?"

"Ya kita ikhtiar dan sabar"

"Kalau aku tak mau berhenti kerja?"

"Carilah pekerjaan yang kau senangi"

"Kalau aku jadi gendut dan jelek?"

"Akupun bisa gendut dan jelek, La. Kau ini kenapa? Tiba-tiba ada kuis begini"

"Aku ingin tahu jawabanmu"

"Karena?"

"Aku tak yakin ada orang yang sanggup dan mau hidup denganku selamanya," pandangan mata Ola menerawang jauh. Seolah ia ingin menceritakan banyak hal lagi, tapi tak mampu.

"Kau ragu?" Elang bertanya perlahan.

"Marriage is once in a life time. I need to make sure I spend it with the right man"

"And there is a chance that this man is not the one in front of you?"

"Indeed. Aku tak mau terbutakan perasaan. I need to think straight."

"Take your time," Elang menghela nafas panjang.

"I am taking my time," Ola memandang Elang lekat-lekat. Seakan ingin tahu isi hatinya terdalam.

Artikel Terkait

A & E (19)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email