Friday, April 06, 2018

A & E (18)

"The greatest journey in our life is to find who we truly are," ucap Ola suatu sore.
"Kau sedang cari jati diri?"
"Iya. Bagus ya namanya, jati diri. Sejatinya diri. Pencarian tak henti dari tiap orang. Menemukan dari mana dia datang, untuk apa dia diciptakan"
"Filosofis"
"Aren't we all?"
"Iya. Kau terutama"
"Aku baru baca buku. Man's Search For Meaning. Victor E. Frankl. Aku pernah baca namanya di suatu hal, lalu ketika aku lihat nama itu di toko buku, segera kubeli tanpa pikir panjang. Untung bukunya tak terlalu tebal."
"Memangnya bagus tidaknya buku ditentukan oleh jumlah halaman?"
"Aku tak bilang begitu"
"Secara implisit itu yang kau katakan"
"Bukan seperti itu. Aku hanya merasa kapasitas otakku belum mampu kalau mesti baca buku serius tebal-tebal. Sama sekali tak ada perasaan niatan untuk underestimate jumlah halaman."
"OK," Elang menjawab santai
"Iya, OK aku dulu memang pernah berpikir seperti itu. Tapi tak lagi. The Alchemist buktinya. Buku tak terlalu tebal, tapi terus saja diminati. Mungkin aku ingin menjadi seorang novelis."
"Apa yang akan kau tulis?"
"Banyak hal. Aku bisa menceritakan apa yang tidak mungkin aku ungkapkan melalui tulisan biasa. Bukankah manusia belajar dari cerita, dari kisah? Makanya beberapa pelajaran di Al-Qur'an disampaikan melalui kisah"
"Oh wow, kau mulai baca Qur'an?"
"Iya, terjemahnya"
"Alhamdulillah"
"Iya, aku juga bersyukur"
"Bahasanya indah, ya?"
"Iya"
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Sebentar lagi kau akan berjilbab tentunya"
"Masih belum tahu. Mungkin. Doakan"
"Tentu aku doakan"
"Tapi nanti kita mesti putus"
"Karena?"
"Karena pacaran itu haram"
"Hahaha. Tentu saja. Langsung aku nikahi saja ketika kau memutuskanku"
"Yeah, you wish"
"Yes, I do wish"

Mereka tertawa, bahagia.

Artikel Terkait

A & E (18)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email