Wednesday, February 07, 2018

A & E (16)

"Kau tahu," ucap Elang saat mereka makan patat oorlog (kentang goreng ala Belanda) di anak tangga gedung entah apa namanya sembari memandangi orang-orang berlalu lalang.

"Wanita itu tak harus bisa masak," lanjutnya.

"Iya, aku tahu," jawab Ola sambil menikmati patatnya yang masih hangat.

Kentang goreng ala Belanda ini besar-besar potongannya, bukan seperti French Fries yang langsing-langsing itu. Bumbu oorlog (perang) adalah campuran antara mayonaise, saos kacang, dan sambal. Enak luar biasa. Harga 1.5 Euro, bisa kenyang seketika.

"Kau tahu juga apa alasanku?"

"Tahu"

"Apa memangnya?"

"Ya, karena wanita itu memasak mestinya karena dia ingin. Bukan karena dia harus"

"Hampir"

"Hmmm...karena banyak penjual makanan. Kalau para wanita jago masak, nanti penjualnya kurang laku. Sehingga roda ekonomi melambat. Lalu akhirnya akan menyulitkan negara"

"Berlebihan"

"Ya, mana kutahu apa alasanmu"

"Karena... memasak itu mesti pakai bumbu cinta. Kalau pakai bumbu paksa, rasanya mungkin tak selezat yang pakai cinta, walau resepnya sama"

"Hahaha. Ya ya ya. Kau tidak sedang merayuku, kan?"

"Apa manfaatnya merayumu?"

"Agar aku jatuh cinta"

"Aku tak merayu saja kau sudah jatuh cinta. Apalagi kalau aku merayumu, bisa bahaya. Hahaha," Elang tertawa puas sambil melihat raut muka Ola yang bersemu merah.

"Kepedean!"

"Tak apa, asalkan kau suka. Aku sudah cukup bahagia"

"Halah. Mana bisa bahagia kalau perut lapar?"

"Bisa. Rosulullah pernah beberapa purnama dapurnya tak mengeluarkan asap, tapi subhanallah istri-istrinya sabar, tetap cinta, tetap bahagia"

"Aneh!"

"Bukan aneh. Kau saja yang belum pernah merasakannya. Jadi kau tak paham. Yang kau lakukan saat kau lapar ya marah, bete"

"Ah kata siapa. Kalau Ramadhan aku sabar"

"Iya kalau Ramadhannya wintertijd (winter time), kalau summer? Hahaha. Tak mampu kubayangkan wajahmu yang menahan lapar lebih dari 18 jam" nada Elang mengejek Ola

"Eits... beda. Ibadah ya ibadah. Kalau lapar tanpa niat ibadah, ya lapar lah. Kalau Ramadhan kan jadi sholehah. Kenapa ya?"

"Good question!"

"I know"

"Habis ini kita ke mana? Madame Tussaud?"

"Hmmm," Ola masih mengunyah patatnya.

"Sepertinya aku ingin naik kapal melewati sungai saja"

"Ah, macam turis?"

"Iya. Kan kita turis"

"Lima tahun kok turis. Satu minggu itu yang turis"

"Ya ya ya, mau kan temani aku?"

"Iya, mau. Ayo! Habiskan dulu patatnya, La"

"Iya. Terima kasih Elang"

"Sama-sama Ola"


Merekapun melanjutkan makan patat terenak yang pernah mereka rasakan. Tak tahu bahwa itu patat terakhir yang mereka makan bersama, sebelum Ola memutuskan untuk pulang ke Indonesia.

Artikel Terkait

A & E (16)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email