Friday, February 02, 2018

A & E (12)

Rindu menyerbu, bagai 300 tentara yang hendak bertempur. Apa kau tak sadari itu, La?
Kucoba pendam rasa ini, tetap menganggapmu sebagai kawan biasa, tapi sepertinya akan susah.
Kau berbeda.

Bukankah tiap orang memang unik, Lang? Bahkan sidik jari orang kembarpun tak sama.

Bukan itu maksudku, La. Kurasa ada hal yang membuatku betah berlama-lama berbincang denganmu.

Ya, tentu saja. Mungkin karena aku bisa kau ajak bicara tentang banyak hal.

Ah, sepertinya bukan itu.

Atau justru karena aku menyebalkan? Banyak bertanya?

Bukan itu juga.

Lalu?

Lalu entahlah. Mungkin karena aku sudah lama mencari orang sepertimu.

Sepertiku? Seperti apa tepatnya?

Ya, seperti Ola.

Mengapa kau cari orang sepertiku?

Entahlah, La. Tak semua pertanyaan mesti terjawab, kan? Aku juga tak tahu. Apa karena kita tertakdir bersama?

Mungkin. Tapi kan takdir ada kadaluarsanya. Kau pernah dengar orang yang menikah kemudian berpisah? Katanya karena takdir bersamanya sudah habis. Apa takdir itu seperti kontrak yang mesti diperpanjang? Bingung juga.

Entahlah. Terserah kau sajalah.


Merekapun berjalan menyusuri pinggiran jalan Braga ditemani puluhan turis yang mengabadikan keindahan jalan legendaris itu. 

Artikel Terkait

A & E (12)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email