Monday, January 01, 2018

Aurora&Elang



“Kau tahu, aku tak ingin selamanya ada di negeri ini," ujar Ola tiba-tiba. 
“Kenapa? Kukira kau betah di sini?” Tanya Elang sambil mengunyah bagel yang dipesannya barusan. Asap mengepul dari kopi verkeerd yang dipesannya. 
“Ya, memang,” Ola memegang mug putih berisi warm chocolade yang ada di meja bulat tanpa taplak.
“Lalu?”
“Entahlah. Kurasa aku tak menemukan arti hidup sebenarnya di sini. Semua menjemukan. Artificial. Sepertinya, bukan ini yang jiwaku inginkan. Not this kind of life.”

Kukira kau betah menghabiskan waktu bersamaku, La…

“Kurasa ini akan jadi tahun baru terakhir kita, Lang. Tahun depan, aku ingin pulang saja.”
“Aku sudah berhenti percaya pada tahun baru, La”
“Sejak kapan?”
“Sejak beberapa tahun lalu”
“Apa yang kau maksud berhenti percaya pada tahun baru?”
“Kau tahu bagaimana kita biasa make a wish dan berharap semua akan berubah tahun itu?”
“Ya, akupun melakukannya”

Bagel yang tinggal separuh itu menemani obrolan mereka pagi itu. Suatu pagi di penghujung tahun. Musim dingin yang tak memberikan salju untuk turun. Di jalanan sempit berbatu, di sebuah cafe pojokan tempat orang Inggris menjual bagel untuk sarapan, sempat-sempatnya Ola dan Elang menghabiskan waktu untuk membicarakan masa depan. 

“Tunggu. Kau akan pulang ke Indonesia, for good?”
“Iya. Kau tidak?”
“Aku belum memutuskan. Visaku belum habis. Mungkin aku stay, mungkin aku pulang. Don’t know yet.”
Sembari meminum seteguk kopi verkeerdnya, Elang melanjutkan
“Tidakkah terlalu dini kau ambil keputusan? Kau juga belum berusaha cari kerja di sini, kan? Atau kau memang tak berniat cari kerja di sini?”
“Aku…” Ola terdiam 
“Aku diminta untuk pulang. Aku akan coba cari kerja. Tapi pada akhirnya, takdir akan berbicara, ya kan? Seperti katamu, jika memang belum ditakdirkan, maka tak mungkin akan terjadi. Walau seluruh manusia dan bumi berkonspirasi untuk melakukannya, jika tidak termaktub, maka tak mungkin itu terjadi”, Ola melanjutkan.
“Ah, kau. Kau baru selesai baca The Alchemist lagi ya?”
“Haha, tahu dari mana?”
“Aku mengenalmu. Lebih dari kau kenal dirimu sendiri, kan La. Kata maktub, tiba-tiba muncul. Mana lagi kalau tak dari The Alchemist-mu itu”
“Hahaha. Kau menjengkelkan!”
“Tapi tetap ngangeni, kan?” Elang terkekeh. Ola meninju lengan tangan Elang. 
“Huh, kepedean!”, celetuk Ola sambil tersenyum. 

Iya, Lang. Tetap ngangeni…







Artikel Terkait

Aurora&Elang
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email