Wednesday, January 03, 2018

Aurora & Elang (5)

Selamat pagi, Ola


Saat kau membaca e-mail ini, artinya aku sudah sempat membalas e-mailmu. Aku baik-baik saja di sini, aku sengaja belum bisa membalas e-mailmu karena aku belum punya waktu untuk menuliskannya. Kau tahu, e-mailmu bukan e-mail pekerjaan seolah tak membutuhkan suasana khusus untuk menuliskannya. Membaca dan menjawab e-mailmu membutuhkan bayangmu dekat di sini.

Jadi jangan kau mengira aku tak rindu. Aku menyimpan rinduku ini baik-baik. Mungkin tak tampak, namun selalu ada. Seperti bunga yang tumbuh di lembah kematian, seolah kosong, padahal benih bunga-bunga itu menunggu untuk diguyur hujan sebelum mekarnya. Suasana yang tepat untuk membuka kotak rinduku ini, agar kata-kata yang kuberikan tak dangkal, terkesan apa adanya, dan tak mampu menyingkap rindu yang ada.

Kau tahu bahwa para penyair dan pujangga tak membuat karyanya di tengah kegaduhan, kan? E-mailku ini adalah contohnya.

Kau sedang baca buku apa sekarang? Aku senang jika kita bisa membaca buku yang sama. Mendiskusikannya denganmu dengan aku memandangi puas mimik debatmu yang tak mau kalah itu. Ekspresif sekali kau, La.

Kemarin kawanku memberikan aku 1 copy Al Mustafa-nya Kahlil Gibran. Kau akan bersenandung jika membaca puisinya.

Mungkin ini pertanda bahwa aku mesti menerima kau mengikuti cintamu untuk pulang, walau aku tahu berat bagimu untuk melakukannya. Waktumu sudah tiba untuk berpisah denganku sementara ini. Tunggulah hingga aku mapan, dan kita akan bersama lagi di sini. Atau kau ingin kita menikah di Indonesia? Hehe.

Kau tahu, Jane & John sedang direnovasi kecil-kecilan. Mereka menambahkan beberapa ruangan dengan kursi-kursi kesukaanmu. Mungkin untuk persiapan event kita nanti #eh.

Eh, La. Tiba-tiba aku ingat kenapa kau suka kursi. Bosmu itu kan yang mengajarimu tentang kursi? Apa kabarnya dia ya? Dia sudah pulang ke Amerika? Jika belum, aku ingin bertemu dengannya. Mungkin sekedar belajar tentang kursi. Agar aku nanti bisa berbincang lebih lama denganmu tentang kursi.

Sudah dulu ya, La.
Elangmu mau kerja dulu.




PS: Titipkan rindumu ke angin, semoga dia akan datang menyapaku hari ini dan menyampaikannya padaku.

PPS: Sepedaku hilang di stasiun Amsterdam.

PPPS: Aku senang membaca e-mailmu. Menulislah untukku setiap hari. Aku akan menuliskan sajak untukmu dalam heningku.



Dagh Ola! 

Artikel Terkait

Aurora & Elang (5)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email