Thursday, January 04, 2018

A & E (8)

“Aku nanti, mau kerja ya setelah nikah,” ujar Ola

“Kenapa?” Elang menghentikan pekerjaannya dan menatap kekasihnya. 

“Ya, sayang aja kalau ilmuku terbengkalai. Bukankah kita semua punya tugas yang sama di dunia ini? Aku juga ingin punya tabungan ilmu yang bermanfaat agar nanti amal jariyahku. Yang terus menerus mengalir hingga kiamat, dong,” Ola membetulkan letak kursinya hingga berhadapan dengan Elang.

“Kau memang mau kerja apa?”

“Hm, jadi guru mungkin, atau jadi dosen, atau businesswoman. Yang penting tak hanya jadi ibu rumah tangga yang diam di rumah dan nunggu anak-anaknya pulang sekolah. Aku ingin bermanfaat bagi orang banyak.” Ola mengungkapkan keinginannya dengan lugas. Sejelas mimpinya yang tak hanya sibuk di dapur, sumur, kasur. 

Deg, Elang tersentak. Ia tak pernah ingin mempunyai istri seorang bekerja. Ia melihat ayah ibunya, dan dirinya sendiri. Ketika ia pulang sekolah, ada ibunya yang menyambutnya dengan masakannya, dengan telinganya mendengarkan celotehnya tentang si Agus, si Wahyu, si Pras. Ketika ia kehujanan, ada ibunya yang menyambutnya dengan handuk kering, membuatkannya susu coklat panas, dan mengeringkan sepatunya yang hanya 1 pasang itu, ditaruhnya di belakang kulkas. Trik jitu untuk mengeringkan sepatu yang sampai sekarang masih dipakainya. Survival skill! 

Ia ingat si Wahyu, kawan SMPnya yang ketika pulang sekolah, tak ada orang di rumah untuk menyambutnya. Makanya Wahyu lebih suka menghabiskan waktu di rumah Elang, bermain gitar, tidur-tiduran, hingga adzan Maghrib tiba, dan akhirnya dia pulang ke rumahnya. Ayah ibu Wahyu bekerja, dan dari cerita-cerita Wahyu selama ini, Elang menangkap ada rasa iri karena ibu Elang ada di rumah setiap hari, kecuali ketika ibunya arisan PKK, menjadi kader Posyandu, atau sedang rapat RT; selebihnya, ibu Elang adalah stay at home mom. Ia tak ingin, anak-anaknya nanti menjadi Wahyu-wahyu berikutnya, yang mesti menghabiskan waktu di luar rumah. 

“Oh, gitu ya La. Bagus juga,” jawabnya singkat. Cukup untuk memberikan respon ke Ola, walau pikirannya melayang ke sana kemari. 

“Kok gitu aja Lang, responmu?”

“Eh, kenapa gitu?”

“Hm, biasanya kau akan panjang lebar mengemukakan pendapatmu. Ya atau tidak setuju dengan itu. Tidak sekedar oh gitu, Bagus juga seperti sekarang. Kau tak apa-apa? Kerjaanmu banyak ya?”

Iya, sori, lagi mikir,” Elang mengelak. Menghindari topik pembicaraan kali ini. Ah, Ola… kenapa? 


Elang bersedih…

Artikel Terkait

A & E (8)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email