Wednesday, January 03, 2018

A & E (7)

Di tengah kesibukan Ola di hari itu, tiba-tiba ada pesan masuk ke telepon genggamnya. Nomer yang tak ada di buku telponnya.

Assalamualaikum, La
Wa'alaikumsalam, tulisnya
Aku bisa telpon?
Ini siapa? Ola tak mengenali nomer itu. Tak mengingatnya sama sekali
Ini Elang
Oh, Elang. Apa kabar? Perasaannya masih biasa-biasa saja.
Alhamdulillah. Baik. Kapan aku boleh telpon?
Hm, nanti kukabari ya. Aku agak sibuk sekarang.
OK. Let me know.
I will.

Sependek itu percakapan pesan mereka. Setelah 6 bulan tak ada kabar berita, pesan tadi tak membuat Ola deg-degan seperti dulu.

Malam tiba, Olapun mengirim pesan ke nomer yang baru disimpannya.

Hai, kau jadi telpon?

Beberapa saat lamanya tak ada jawaban dari pemilik nomer itu.

1 jam kemudian.

Maaf, kurasa aku tak jadi menelponmu. Begitu tulis Elang.
Kamu serius?, Ola tak percaya apa yang dilihatnya. Dibacanya sekali lagi pesan itu. Elang membatalkan niatnya!
Iya. Maaf.
Sudah! Tak perlu minta maaf. Don't ever do this to me anymore!
Iya, maaf.
Don't even try to apologize. I am dead to you! Ola mengetik dengan jantung berdebar, mata memerah, ia marah!

Ola tak kuasa menahan amarahnya. Kamu tega, Lang. Kamu jahat. Ia tak kuasa membendung butiran-butiran air mata yang jatuh di pipinya. Ola sesenggukan.
I miss you, Lang.

Elang melihat pesan itu dengan seksama. Ah, La..kau masih sama. Marahmu itu selalu membuatmu menulis bahasa Inggris. Maafkan aku, La. Aku tadi ingin benar mendengar suaramu, tapi aku takkan sanggup menanggung rindu yang akan muncul setelahnya. Candu, katamu.

Maafkan aku, La.
Elang terdiam. Iapun mematikan telpon genggamnya.
I miss you, La.

Artikel Terkait

A & E (7)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email