Wednesday, January 03, 2018

A & E (6)

Hai Lang,

Aku tak tahu kapan kau akan baca e-mailku ini. Izinkan aku bercerita padamu tentang hujan di negeri tropis ini. Siapa tahu kau lupa bagaimana rasanya tinggal di Indonesia. Jalanan penuh dengan orang yang rindu rumah. Banjir banyak di spot-spot yang jelek aliran airnya. Kasihan mereka. Banyak pengendara motor yang rela kehujanan demi waktu yang lebih singkat ditempuhnya. Ada ojek payung juga.

Aku menuliskan e-mail ini saat ada di taksi yang sudah kutunggh 1 jam lamanya. Mungkin sekarang kau sedang makan siang. Kau beli apa di Albert Heijn? Sandwich kesukaanmu kan?

Lang, seringkali menyakitkan kala ku ingat kau jauh di sana. Aku tak punya kawan berbagi cerita. Ternyata susah mencari kawan yang dengannya kita bisa bercerita tentang segala hal. Denganmu, aku bisa bercerita apapun. Mulai sastra, hingga pergerakan politik. Aku rindu masa kita berbincang sambil meneguk segelas kopi.

Aku baru saja berkunjung ke kawanku, tapi tak sepertimu, dia tak bisa kuajak berbincang tentang segala hal. Tak sepertimu yang aku bisa lugas berbicara apapun, menyampaikan pendapat tanpa takut kau hakimi, kau beri label. Orang-orang di sini akrab dengan label.

Aku juga masih shock melihat deretan angka nol berjajar begitu banyak. Mahal sekali negeriku ini. Aku mungkin sedang shock culture. Belum lagi aroma feodal yang masih kental terasa, membuatku kadang tak betah di sini. Tapi ke sanapun aku tak bisa. Ah, aku belum berdamai dengan kenyataan.

Kau tanya aku sedang baca buku apa? Hmmm, aku akan beli Al Mustafa, agar aku bisa bersenandung saat membaca syairnya, dan agar ku rasakan apa yang kau rasakan saat membacanya.

Lang, kuharap kau tak bosan membaca tulisanku, meski kutahu kau tak mungkin mendengar ocehanku. Aku rindu. Dan akan kutitipkan pada butiran air yang akan menguap jadi awan, dan jatuh lembut di wajahmu.

Kalau orang bilang kasmaran itu bodoh. Mungkin aku sudah lebih dari kasmaran saat ini. Kau tahu, semesta berkonspirasi saat kau sedang rindu. Tadi aku dengarkan lagu kita saat aku bertamu. Dari satu juta kesempatan dan pilihan lagu, kenapa lagu itu? Langsung tergambar fragmen kita di ingatanku. Jelas. Berwarna. Dan mungkin itu yang membuatku mendayu-dayu. Haha. Sebuah lagu.



PS: Sepeda bekas beli lagi aja. Jangan yang baru. Haha

PPS: Hujan ini membuatku mengharu biru


Olamu yang akan tetap jadi Olamu.

Artikel Terkait

A & E (6)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email