Saturday, January 06, 2018

A & E (10)

Pesan masuk di telpon genggam Ola sepagi itu. Haarlem masih tertidur. Yang ramai hanyalah Grote Markt. Hari Minggu pagi seperti ini, pasti orang-orang berbondong-bondong untuk membeli banyak makanan di sana.

Pagi La, ini urgen..plis. aku perlu ketemu kamu.

Buat apa?

Urgen, La.

Aku akan ke Haarlem sekarang. Aku butuh ketemu  kamu. Aku bawakan patat oorlog kesukaanmu ya. Atau kau mau waffle? Mau apa? Nanti kubawakan. Atau kau mau Subway? Atau lumpia Vietnam di Grote  Markt?

Ya sudah. Terserah kau saja.

Ola membalas pesan Elang. Percuma memaksa Elang si keras kepala. Ola berkata 1000 kali tidak, Elang akan menjawab 1001 kali ya.

Dua jam kemudian, Elang muncul di pintu rumah bernomor 7. Ia membawakan seikat bunga, satu coklat, dan patat oorlog kesukaan Ola.

"Berhenti memperlakukanku istimewa. Aku ini biasa-biasa saja, Lang. Jangan kau tanam benih perhatianmu, aku takut akan bersemai perasaanku. Dan suatu saat akan ada gulma di antara mimpi2 kita. Kau tahu?"

"Dunia dipergilirkan. Senang sedih diputarkan.
Biar hidup gak monotone, kayaknya. Karena yang 1 mengingatkan akan 1 nya lagi. Ya kayak rasaku ke kamu, La. Kamu nyebelin tapi juga ngangenin. Bukankah aku punya hak untuk menyukaimu?"

"Gitu ya Lang? Ayo masuk," Ola mempersilakan Elang masuk, mereka menaiki 11 anak tangga  sebelum sampai di ruang tamu kontrakan Ola dan kawan-kawannya.

"Mana yang lain?" tanya Elang. Biasanya ada Rico yang sudah di dapur, Ermin di ruang tamu, Nina di kamar atas, Gina di kamar mandi, dan Dita di meja komputernya bersama Ningsih.

"Pada nginep di luar," jawab Ola sekenanya sambil meletakkan bunga di vas berisi air hangat setelah tangkai bawahnya ia potong miring.

"Iya, gitu, La. Memang kenapa? Ada apa? Kau sudah punya seseorang? Significant others?"

"Hmmm, tidak juga. Hanya saja. Mungkin sekarang belum saat yang tepat bagiku dan bagimu untuk memulai apapun itu yang bisa, akan, dan ingin kau mulai"

"Maksudnya?"

"Wisnu"

"Ya, kenapa dengan dia?"

"Dia bercerita padaku tentang hmmmmm, masa lalumu"

"Yaitu?"

"Tentang patah hatimu, yang hampir membuatmu loncat dari balkon," Ola berkata lirih

"Oh itu. Apa katanya?" Elang terlihat santai

"Hmm, Wisnu berpesan agar aku, tidak membuatmu mengulanginya lagi. Agar aku tidak pernah meninggalkanmu seperti dia meninggalkanmu"

"Kau boleh sebut namanya, dia bukan the you know who, La," Elang terkekeh

"Iya, Dyah"

"Ah, itu tak kan terjadi lagi, La"

"Yang mana? Kau loncat dari balkon?"

"Bukan. Yang kau akan meninggalkanku seperti Dyah meninggalkanku," Elang berkata dengan penuh percaya diri.

"Ah kau. Kepedean," Ola cuek dan melahap patatnya.

"Makasih ya udah repot-repot bawain ini semua"

"Santai, La"

"Jadi apa yang urgen?"

"Ini"

"Ini apa?"

"Berbincang denganmu sambil melihat tingkah lakumu," Elang tak kalah cuek.

"Ah, gombal," muka Ola bersemu merah.


"Tak apa gombal juga. Asal kau percaya," Elang tertawa menang. 

Artikel Terkait

A & E (10)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email