Tuesday, December 19, 2017

Selamat (menjelang) Hari Ibu, Ibu!


Manusia mempunyai misi hidup masing-masing. Misi hidup yang tanya dia dan Sang Pencipta yang tahu. Misi hidup yang awalnya tak tampak, namun lama kelamaan muncul seiring dengan bertambahnya usia. 

Kata salah satu guru saya, kelebihan kita adalah misi hidup kita. Ada orang yang memiliki kelebihan menggambar, sehingga ia pun menciptakan buku cerita yang berisi kisah-kisah mendidik. Ada yang kelebihannya menyanyi, maka dia menyanyikan lagu-lagu untuk mengingatkan manusia akan hakikat kehidupan dan hidup setelah mati. Ada orang yang mempunyai kelebihan berdagang, maka iapun mampu mengelola bisnis milyaran rupiah. Dan lain sebagainya.

Allah SWT menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Masing-masing memiliki misi hidup. Maka di zaman Rosulullahpun, wanita mampu bekerja. Lihat saja kisah istri Rosulullah SAW, Ibunda Khadijah r.a. wanita paling terpandang di zamannya. Mempunyai perniagaan yang omzetnya terkira. Seorang pebisnis muslimah yang dermawan. 

Zainab binti Jahsy, salah satu dari ummahatul mukminin yang paling awal menyusul kepergian Rosulullah SAW.
"Bahwa yang paling cepat menyusul diriku dari kalian (istri-istriku) adalah yang paling panjang tangannya.” (H.R. Bukhori & Muslim)

Apa hal yang membuat Zainab dianggap memiliki panjang tangan? Panjang tangan di sini bukanlah dalam artian gemar mencuri. Namun, panjang tangan bermakna gemar memberi, bersedekah. Mengapa Zainab mampu bersedekah lebih daripada istri-istri Rosulullah selainnya?
Ternyata karena Zainab mempunyai keahlian dalam menyamak kulit, memintal serta menenun kain sutra. Hasil penjualannya kemudian disedekahkan.

Jika diibaratkan di zaman sekarang, maka kedua istri Rosulullah di atas merupakan contoh working mom. Ibu pekerja dengan bidang pekerjaan yang berbeda. 

Bersedekah lebih banyak, bermanfaat untuk lebih banyak orang, bersedekah untuk keluarga, menghapus dosa dari lelahnya bekerja; begitu banyak kelebihan ibu bekerja, tanpa mengesampingkan ibu yang mendedikasikan waktu dan tenaganya 100% untuk keluarga.

Banyak alasan mengapa seorang ibu memutuskan untuk tetap bekerja. Beberapa diantaranya: 
  1. Ingin mempraktekkan ilmu yang sudah dipelajari 
  2. Kebutuhan rumah tangga
  3. Single parent
  4. Dan kemungkinan lainnya yang menyebabkan ibu bekerja 

Dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, ibu bekerja mempunyai tantangan dengan me-time serta family time

Me-time memudahkan ibu bekerja untuk kembali segar dan berenergi setelah bekerja. Dan terpenting dari semuanya, anak dan suami tetap mendapatkan haknya. Coba bayangkan setelah ibu bekerja, masih mengerjakan pekerjaan rumah tangga jika tidak mempunyai khadimat, kemudian masih bercengkerama dengan anak dan suami. 

Ibu ibarat madrasah jika engkau persiapkan
maka ia akan mencetak bangsa yang unggul
(Muhammad Hafizh bin Ibrahim, 1932 M)

Maka peran ibu dalam mendidik anak tidak luntur walaupun ibu bekerja. Tantangan kedua bagi ibu bekerja. Keletihan bekerja berefek pada emosi. Dan emosi berefek pada pengasuhan anak. Diakui atau tidak, hal ini berefek pada kesabaran ibu dalam menghadapi kelincahan anak. 

Tantangan zaman now dengan segala kelebihan dan kekurangannya menjadikan parenting skill sebagai salah satu soft skill yang perlu dimiliki orang tua. Baik ibu, maupun ayah. Karena tentunya kita semua sepakat bahwa tugas mendidik bukan hanya tugas seorang ibu. 

Sayangnya tidak ada sekolah bagaimana menjadi orang tua. Parenting skill tidak semudah terlihat. Kemampuan mengendalikan emosi, kemampuan menempatkan diri dari sudut pandang anak yang wawasannya masih belum seluas orang tua, kemampuan empati, kemampuan komunikasi. Tidak mudah, tapi juga tidak mustahil.

Sebagaimana kita belajar pada ummahatul mukminin tentang ibu bekerja, maka kitapun bisa belajar dari Rosulullah SAW dan banyak kisah kenabian tentang parenting. Parenting ala keluarga Lukman tentang pengajaran tauhid, parenting Siti Hajar kepada Nabi Ismail A.S. yang menjadikan Nabi Ismail tabah salam menjalani perintah Allah SWT yang disampaikan dalam mimpi ayahnya, Nabi Ibrahim A.S. 

Terlalu ideal? Seolah utopis? Mari kembali pada pertanyaan: 
“Mengapa menikah?” 
“Apa tujuan dalam menikah?”

Lalu teruslah belajar, kelelahan dan keringat semoga menjadi penggugur segala dosa kita. Aamiin. 

Selamat Hari Ibu, ummahat! 

Artikel Terkait

Selamat (menjelang) Hari Ibu, Ibu!
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email