Friday, December 29, 2017

Salah Satu Resolusi 2018-ku... Kamu, apa resolusimu?

Sekelumit yang ingin saya bagi, Bismillah. Dengan izin Allah SWT, smog diberi kesempatan merampungkan novel fiksi. Mohon doanya...

Buku ini tentang apa? 
Tentang persahabatan. Obrolan persahabatan dalam mencari makna hidup. Perjalanan mencari jati diri. Menemukan diri di balik banyak topeng yang sudah banyak tersematkan. Jika diibaratkan film, maka buku ini seperti film Before Sunset, Before Sunrise, Before Midnight. Tipe film yang lebih banyak berkisah tentang obrolan, mencari makna kehidupan, bertukar argumentasi dan pendapat. Mencari jalan tengah. Bersantai dan menemukan tujuan masing-masing, walau mungkin tak bersama. 

Manusia punya akal pikiran yang bisa maksimal jika digunakan untuk berpikir, merenungi makna yang ada, tapi sayangnya, tak semua kawan bisa menjadi tempat tek-tok pikiran yang mencerahkan. Kadang dengan derasnya arus informasi yang ada, orang melupakan sejenak untuk meletakkan gawai dan bersantai dengan berbincang. Dan di buku ini, ada cerita tentang bagaimana dari obrolan, bisa lahir banyak hal. Termasuk pada pencapaian cita-cita, pencarian jati diri.

Komunikasi bisa dilakukan dengan menanyai diri sendiri. Diawali dengan pertanyaan-pertanyaan: 
  1. Untuk apa aku hidup? 
  2. Mengapa hal ini mudah bagiku, sedangkan susah bagi orang lain? 
  3. Apa yang diinginkan dari hadirku di dunia? 

Ada orang bijak mengatakan bahwa tingkat kebermanfaatan seseorang bisa dilihat dari topik obrolan yang dipilihnya. Semakin tinggi tingkat obrolan seseorang, yang memberdayakan, bukan hanya menggosipkan, semakin tinggi kebermanfaatan yang akan diraih mereka. 

Tanpa hadirnya sahabat sejati, yang mampu mengingatkan dalam kealpaan, menegur dalam kesalahan, merangkul dalam kelemahan; maka seseorang akan terombang-ambing oleh pikiran dan perasaannya sendiri. Topeng yang ia buat untuk menghias citra diri. Berharap orang lain akan menghargai, kadang membuat lupa tentang jati diri.

Adanya sahabat yang mampu melihat diri sebagai hamba, hanya manusia, setinggi apapun ilmunya, ternyata menenangkan dan menyenangkan. Lelah rasanya bertopeng terus menerus tanpa ada yang mengerti bahwa ia adalah manusia biasa yang punya masalah. Seluas apapun wawasannya, ia hanya lelaki yang ingin dimengerti sebagai dirinya sendiri. 

Bercerita tentang seorang laki-laki yang lelah bertopeng sekian lama menjadi sempurna. Dianggap sempurna. Ternyata topeng itu bisa dibuka satu per satu saat ia bertemu dengan seorang perempuan yang tak mengenal dia sebelumnya. Yang memperlakukan dia apa adanya.
Mengapa menulis buku ini? 
Orang dinilai dari siapa temannya. Maka dengan siapa kita bersahabat akan menentukan bagaimana kita dalam hidup nantinya. Berkawan dengan penjual minyak wangi akan menjadi harum. Berkawan dengan pandai besi akan berbau asap. 

Sebagai pengingat bahwa kita semua butuh sahabat yang berani mengatakan sejujurnya, tanpa takut kehilangan persahabatan itu sendiri. Untuk mengucapkan terima kasih pada sahabat-sahabatku yang telah memberikan tempat berteduh dan bersandar. Yang mampu melihatku tanpa melihat gelar dan prestasi. Yang mampu melihat melewati segala topeng yang ada. Yang menerima apa adanya. 

Banyak orang kehilangan arah saat ia sendiri. Maka buku ini ingin mengingatkan bahwa “janganlah sendiri”. Bersama-samalah. Bersahabatlah. Karena dalam persahabatan sejati itulah kita akan belajar saling menerima, saling memaafkan dan meminta maaf. Rendah hati dan mau menerima kekurangan dan kelebihan orang lain. Apa adanya. 

To be taken as we are, adalah karunia yang sering terlupakan untuk disyukuri. Tanpa topeng untuk dihias. Tanpa citra untuk dijaga. Semua berasal dari kemurnian hati dalam bersilaturahim. 

Seringkali kita justru sibuk mempercantik hiasan, meninggikan wawasan, menegakkan sandaran, namun terkadang lupa pada kesejatian. Bahwa manusia akan silau akan ketenaran. Dunia melenakan. Pujian melambungkan. Tapi apa artinya? Kosong belaka. Orang bisa memuji, di depan kita. Karena sejatinya mereka tak tahu seburuk apa dosa kita. Orang bisa memuji di depan kita, karena ia tak tahu bobroknya kebiasaan kita.

Melelahkan berpura-pura sempurna. Buku ini ingin mengajak kembali kepada diri. Sudahlah, jangan sibuk percantik topeng jika ternyata itu melelahkan. Jadilah diri apa adanya. Maka kesejatian akan mendatangi kita. 


Poin-poin dalam buku:
Ketika mulai bertopeng
Ketika bertemu perempuan tanpa topeng 
Obrolan absurd yang sebenarnya mencari kehakikian
Menerima keadaan tanpa topeng 
Persahabatan hakiki saling menuju keimanan sesungguhnya 
“Buka dulu topengmu - Peterpan


-----

Ini resolusiku, apa resolusimu? 


Artikel Terkait

Salah Satu Resolusi 2018-ku... Kamu, apa resolusimu?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email